Jan 21, 2008

Benteng Spelwijk, Banten Lama: suatu sore (liburan, tamat)




DAYA tarik kota Banten lama, yang pada tahun 1520-an dikenal berjaya dengan kerajaan Islamnya, selalu menggodaku untuk mendatanginya. Apalagi reruntuhan kerajaan, berikut benteng, kanal, serta bangunan masjid yang berdiri kokoh, masih bisa dijumpai di kawasan itu.

Dan, kesempatan itu akhirnya datang juga, awal Januari lalu. Berbekal pengetahuan seadanya tentang peninggalan Banten lama, saya coba meyakinkan istri agar mau mengunjungi kawasan bersejarah itu. Anggukan setuju, sebuah senyuman, dan kalimat tipis “boleh”, akhirnya menjadi kata pembuka sebelum akhirnya mobil kami melaju di jalan tol mengarah ke Merak, di ujung kanan Pulau Jawa…

Pertanyaan anakku “mau kemana kita hari ini”, kutunda menjawabnya, kecuali dengan mengatakan “ini kejutan buat Aida, tunggu saja ya..” Dan pada Sabtu siang itu, 5 Januari lalu, saya betul-betul menikmati perjalanan yang acap tertunda itu…

Di perjalanan, sempat khawatir hujan bakal merusak perjalanan. Namun hujan ternyata ‘cuma mampir sebentar’ saat mobil kami melaju di jalan tol. Berhenti sebentar pada sebuah tempat peristirahatan, mengisi perut dan bekal, mobil kami akhirnya memasuki kota tua itu (papan bertuliskan “kota Banten lama” cukup membantu kami sebagai penunjuk jalan – kira-kira letaknya 10 kilometer dari pintu tol).

Tujuan pertama kami adalah Masjid Agung Banten (dengan bangunan menaranya yang terkenal), tapi belum jauh melangkah mata kami tertumbuk pada sebuah papan tulis: Benda Cagar Budaya “Keraton Kaibon”. Letak bangunan yang tinggal reruntuhan itu, persis di sebelah sungai, dekat sebuah jembatan besi. “Eh, bangunan apa ini,” saya bertanya-tanya.

Kami pun menghentikan mobil, tapi rasanya sulit sekali menemukan lahan parkir – kami sempat was-was pula melihat gerombolan pemuda, yang ternyata tukang ojek motor. Dengan sedikit sok tahu, saya pun bergumam, “Oh, mungkin ini bangunan kerajaannya, sementara masjidnya ke arah sana lagi…” (kami tidak masuk ke dalam komplek reruntuhan, dan cuma memotret dari luar pagar).

Belakangan, aku akhirnya tahu, Keraton Kaibon – yang kini tinggal reruntuhan, tapi terlihat dirawat -- dulunya adalah keraton untuk tempat tinggal ibu salah-seorang sultan. Situs bangunan ini dipagari kawat berduri, walaupun sore harinya saya melihat arealnya dijadikan tempat bermain bola..

Dari situs ini, kami pun melanjutkan perjalanan – kami berlomba dengan waktu, karena “jangan sampai kita kemalaman di daerah yang belum kita kenal,” kata istriku. Dan melewati beberapa situs makam, dalam rentang waktu yang pendek, kami akhirnya sampai pada sebuah kawasan terbuka.

Agak bingung karena tidak ada papan penunjuk arah, kami akhirnya mengikuti sebuah jalan – dan parkir mobil seadanya. Di sebelah kiri terlihat para pedagang kaki lima, sementara di sisi kanan terlihat sebuah tembok tinggi – dan parit kecil di sekelilingnya. “Ini dia bangunannya, sepertinya benteng!” teriakku, walau aku tidak tahu apa namanya.

Dengan melewati kerumunan penjual cinderamata, kami akhirnya bisa melihat menara masjid itu – warnah putih, berdiri anggun, dan memang mirip mercusuar! Namun niat kami ke masjid kami tunda dulu…

Tembok tebal setinggi sekitar dua meter, yang luas berdiri di ruang terbuka, akhirnya yang kami kunjungi lebih dulu. Inilah tembok reruntuhan Keraton Surosowan, yang disebut sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Banten tempo dulu…

Semula aku ingin ajak Aida (istriku tak tertarik) masuk ke dalam reruntuhan kerajaan itu, tapi kubatalkan setelah pintu masuknya terendam air – bekas hujan. Menurut beberapa arkeolog dan sejarawan, Istana Surosowan – yang luasnya sekitar 3 hektar -- dibangun ketika pasukan gabungan di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang – sayangnya tahunnya tidak kuketahui.

Masih menurut para ahlinya, yang kukutip dari beberapa tulisan, Sultan Ageng Tirtayasa – yang dikenal sebagai sultan yang ikut memerangi kolonial Belanda -- mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda , di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel.

Benteng istana ini disebutkan pernah terbakar tahun 1605 dan 1607, sebelum dihancur-leburkan pasukan Daendels pada 21 November 1808. Namun demikian, seperti ditulis sebuah situs, kendati kini tersisa reruntuhan, situs Surosowan “masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis” – sayangnya, seperti saya saksikan sendiri, sore itu kompleks situs dipenuhi pedagang kaki lima, dan tanpa dijaga petugas…

Di samping situs istana Surosowan, sebuah kanal terlihat mengalir. Disebut-sebut kanal itu untuk mengalirkan air bersih dari sebuah sumber ke komplek istana itu – barangkali untuk keperluan mandi dan minum para sultan, putri serta keluarga besarnya (saya bayangkan para putri itu mandi di tengah kolam,di tengah istana yang kini tinggal reruntuhan...)

Dan masih di samping istana itu, berdiri masjid agung dan museum yang isinya peninggalan Kerajaan Banten lama. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini – “Semoga di museum itu ada penjelasan, atau konteks, dari situs-situs ini,” kataku pada istriku.

Walaupun isinya tidak lengkap, saya akhirnya punya gambaran lebih lengkap tentang kawasan situs arkeologis Kerajaan Banten. Di dekat pintu masuk museum, ada semacam miniatur (diorama) komplek kerajaan itu. Saya dan istri jadi paham, setidaknya lokasi situs lainnya – seperti Benteng Spelwijk, Menara masjid Pecinan, atau kemana arah kanalnya…

Di sana kutemukan juga sebuah lukisan sosok duta besar Banten di Inggris – hah, saya jadi ingat, ini bukti kongkrit kejayaan yang penah disandang Kerajaan Banten pada jaman itu: tercatat bangsa yang berniaga sampai ke Banten adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya – namun menurut sejarah, Belanda akhirnya menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya.

Setelah puas menjelajahi museum berukuran kecil itu, saya pun melirik masjid Agung. Diwarnai rasa was-was, karena dihadang anak-anak yang meminta uang, kami memutuskan tidak berlama-lama di pelataran Masjid Agung Banten Lama -- dibangun tahun 1566, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, yang kemudian dilanjutkan pemerintahan Sultan Maulana Yusuf.

Kami akhirnya berhenti sekian meter dari menara masjid yang mirip mercusuar. Setelah ambil gambar, kami pun beranjak kembali ke mobil – kami parkir agak jauh, dan mesti melewati jalan keluar yang dipadati para penjual mulai CD bajakan sampai tasbih. “Aida ingin naik ke atas menara!” Protes anakku tak membuat kami berubah pendirian.

Dari sejumlah laporan, menara masjid itu disebut-sebut dirancang seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel, atas perintah salah seorang Sultan Banten. Itulah sebabnya, demikian menurut laporan itu, bangunan menara itu lebih mirip menara suar. Di sekitar masjid, disebutkan ada makam sejumlah Sultan Banten serta keluarganya…

Kini ada tiga situs lagi, yang belum kami kunjungi di kawasan arkeologis itu, yaitu Vihara Avalokitesvara (yang dibangun pada abad ke-16, dan konon terawatbaik sampai sekarang), menara mesjid Pecinan dan benteng Spelwijk.

Sayangnya, karena kendala waktu, kami akhirnya mendatangi menara masjid pecinan (kami cuma mampir sebentar, dan mengambil gambar di sini), benteng yang kusebut terakhir itu…

Saat mobil kami merapat di dekat benteng itu, terasa sekali bekas aroma peperangan antara Kerajaan Banten dan kolonial Belanda. Beberapa bangunan makam – milik penggede dan prajurit kolonial Belanda yang tewas saat perang dengan pasukan Banten – masih terlihat di pelataran benteng itu, walau tidak terawat. Dari catatan sejarah, disebutkan benteng seluas 2 hektar ini dibangun Belanda untuk menyaingi Keraton Surosowan – yang saat itu tengah diperbaiki. Letak benteng Spelwijk memang tidak jauh dari keraton itu, dan berjarak sekitar 600 meter dari tepi laut (konon, arsitek benteng itu juga tukang disain Surosowan: Hendrik L Cardeel).

Speelwijk, yang sore itu sebagian lahannya dibuat bermain sepakbola, sekarang memang tinggal reruntuhan. Dahulu benteng ini bekas keraton Kerajaan Banten, tapi tahun 1785 di hancurkan Belanda, kemudian dibangun menjadi benteng -- lengkap dengan ruangan bawah tanah…(aku sempatkan naik tembok benteng itu, mencoba membayangkan apa yang pernah terjadi di benteng itu..).

Pada sore yang hangat itu, akhirnya aku harus menyudahi lamunanku. Kuajak istri dan anakku memutar jalan (melewati sebuah kampong nelayan), melewati sebuah muara (yang airnya coklat), dan kapal-kapal nelayan, sebelum akhirnya kutinggalkan kota Banten lama… (tamat)

Jan 14, 2008

bila Jenderal Ter Poorten menangis di Kalijati (liburan akhir tahun, bagian2)




AWALNYA adalah sebuah gambar buram, yang kusimak lebih dari 25 tahun silam, pada sebuah buku sejarah dunia – milik kakakku, yang kulit bukunya dilapisi kertas warna coklat. Dalam gambar itu, terlihat sejumlah lelaki berseragam militer berhadap-hadapan di sebuah meja, di dalam sebuah rumah, pada sore yang lembab, 8 Maret 1942.

Dua lelaki berkulit pucat pada gambar tersebut terlihat tegang, memikirkan sebuah negeri -- dijuluki zamrud katulistiwa – yang bakal hilang. Sementara, di depannya, terlihat kepala beberapa lelaki (yang kubayangkan berkulit kuning) tengah membayangkan sebuah penaklukan baru.

Apa yang terjadi di balik foto buram (yang dicetak di kertas yang kualitasnya buruk, sehingga membuat aku dulu penasaran), serta kejadian sejarah di dalamnya, terus kuingat. Walau ingatanku mulai memudar, ada beberapa kata yang masih kuingat dari keterangan foto: “Jenderal Ter Poorten”, “8 Maret 1942”, “Penyerahan Tanpa Syarat Belanda atas Jepang” serta “Kalijati”…

***

KALIJATI, saat itu (tatkala aku masih bercelana pendek, murid sekolah dasar) kuanggap sebuah titik kecil di tengah belantara titik-titik besar pada sebuah peta pulau Jawa. Letak persis kota kecamatan itu, kalau tak kucermati secara seksama, tentu tidak kutemukan pada peta – terkadang, bahkan, kota kecil penghasil buah nanas madu itu acap kusalah-pahami sebagai Linggarjati (sebuah kota kecil lain yang berdekatan dengan Cirebon, yang juga bersejarah).

Tapi semuanya berubah, tatkala kukenal seseorang – yang akhirnya menjadi istriku, tahun 2000. Dia ternyata lahir dan masa kanak-kanaknya dibesarkan beberapa ratus meter dari rumah bersejarah tersebut (dulu rumah seorang perwira Belanda, bagian dari komplek pangkalan udara militer Belanda – dibangun tahun 1914).

Sejak 1949, pangkalan itu berubah menjadi pangkalan udara militer pertama Indonesia. Terletak di Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat (sekitar 175 kilometer dari Jakarta), belakangan namanya berganti menjadi Pangkalan TNI Angkatan Udara Suryadarma. Di pangkalan udara itulah, 65 tahun yang lalu, di rumah milik perwira Belanda itu, Belanda dibuat bertekuk lutut di hadapan Jepang – hilang sudah negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa, yang mereka kuasai lebih dari 350 tahun!

Tahun 80-an, istriku dan keluarganya meninggalkan tempat bersejarah Kalijati, dan pindah ke Jakarta. Tapi kenangan masa kecilnya atas kota itu, selalu dia ceritakan kepadaku, berulang-ulang (“kau percaya-nggak, dulu aku pernah mandi di kubangan di komplek itu…” atau “rumahku dulu atapnya tinggi, maklum peninggalan Belanda…” begitu dia bernostalgia).

Dan aku, biasanya, takzim mendengarkan ceritanya -- seraya membayangkan bentuk rumah-rumah itu, halamannya yang luas dan berumput, serta kubangan itu. Tapi, tentu saja, fikiranku melayang pula, memikirkan gambar buram di buku sejarah itu – “aku ingin melihat dan membayangkan bagaimana Jenderal Ter Poorten itu berjalan gemetar, dan menangis meski dalam hati… “

***

KALIJATI, sebuah siang hangat berawan, 27 Desember 2007. Kulihat dari dekat rumah bercat krem, yang pintu lebarnya berkaca dan berwarna coklat tua. Sebuah monumen – berupa tonggak putih bertuliskan Jepang – berdiri di depannya. Di belakangnya ditempel papan bergambarkan bendera Indonesia, Jepang, Belanda, pada sisi depan tembok rumah itu. Berteras ubin abu-abu, rumah itu berhalaman luas. “Belakangan, rumah ini dikosongkan, dan dijadikan semacam museum,” jelas mertuaku, tanpa menyebut tahun persisnya – sayangnya, kami tak bisa masuk ke dalamnya.

Namun angin semilir yang berhembus siang itu, akhirnya mengantar kami ke sejumlah obyek bersejarah lain di komplek itu -- hanggar pesawat yang masih berdiri kokoh (walau berkarat sebagian dan berubah fungsi jadi museum, namun kujumpai pesawat albatros di dalamnya), bunker beton (namun tak lagi dihadiri lagi tentara Belanda atau Jepang yang mungkin kesepian di dalamnya), museum sejarah pangkalan udara itu (sayangnya dokumen dan datanya minim sekali) dan deretan rumah berdinding tebal (dua diantaranya pernah dihuni istriku, dan lainnya beberapa teronggok tak terurus)…

***

BEBERAPA hari setelah kunjungan itu, aku tergoda melihat kembali cuplikan sejarah dari peristiwa yang digelar di rumah itu. Semuanya berawal dari kedatangan Tentara Jepang, di Pantai Eretan Wetan, di pesisir Kabupaten Indramayu, awal Maret 1942, yang membuat panik orang-orang Belanda di pangkalan Kalijati -- hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari lokasi pendaratan. Sejarah kemudian mencatat, Kalijati adalah sasaran penting, sebelum kota Bandung.

Sempat terjadi pertempuran sengit di Ciater, 6 Maret, Kota Subang akhirnya dikuasai pasukan Jepang – dan pasukan Belanda mundur ke Bandung. Khawatir serangan itu berlanjut ke Bandung, sehari kemudian bendera putih dikibarkan pihak Belanda, tanda menyerah. Maka dibuatlah sebuah pertemuan di Kalijati, pada sebuah sore, 8 Maret 1942…

Sejarawan Belanda Lambert Giebels, dalam buku berjudul 'Biografi Soekarno (1901-1945)', yang dikutip sebuah media, mencatat sebuah percakapan antara juru runding Belanda dan Jepang -- Jendral Ter Poorten, selaku Panglima Belanda, hanya bersedia untuk kapitulasi Bandung saja. Namun, keinginan itu dengan tegas ditolak Panglima Imamura, yang mewakili Jepang, yang menginginkan kapitulasi untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.

Dalam pertemuan itu, Letnan Jenderal Imamura bertanya pada Ter Poorten, "Kemarin Tuan mengeluarkan perintah untuk meminta gencataan senjata. Apakah itu karena Tuan tidak mampu lagi untuk melanjutkan pertempuran?"

"Karena saya tidak mau melanjutkan lagi kesengsaraan perang ini," Jawab Ter Poorten.

Lalu Letnan Jenderal Imamura bertanya kepada Gubernur Jenderal, "Apakah Tuan bersedia menyerah tanpa syarat?"

"Tidak, saya tidak bersedia untuk menerima penyerahan tanpa syarat," sahut Gubernur Jenderal.

"Kalau begitu untuk apa Tuan datang kemari?"

Gubernur Jenderal menjawab, "Tuan meminta saya datang dan saya memenuhi undangan itu, karena saya mengharapkan untuk membicarakan dengan Tuan tentang pemerintahan sipil atas pulau Jawa."

Letnan Jenderal Imamura tidak menggubris jawaban itu. Ia berpaling kepada Ter Poorten, lalu mendesak, "Apakah Tuan menyerah tanpa syarat?"

"Saya hanya dapat menawarkan pada Tuan penyerahan kota Bandung."

"Kapitulasi Bandung tidak menjadi perhatian kita."

Letnan Jenderal Imamura mengulangi lagi pertanyaannya dan Ter Poorten tetap menjawab dengan kalimat yang sama.

"Tidak ada gunanya untuk mengulangi permintaan ini. Jikalau Tuan tidak menyerah, maka tidak ada jalan lagi bagi kami kecuali meneruskan penyerangan. Tuan dapat kembali segera ke Bandung. Saya akan memberi kepada Tuan satu pas, sampai lini terdepan, tetapi pada waktu Tuan melintasi lini ini, saya akan melakukan pemboman atas Bandung dengan pesawat yang telah siap sedia di lapangan ini. Tetapi saya akan memberi kepada Tuan kemungkinan terakhir untuk mempertimbangkan permintaan saya. Saya beri waktu 10 menit."

Dengan gertakan ini, seperti diketahui, akhirnya Belanda yang sudah bercokol di Hindia Belanda berabad-abad menyerah tanpa syarat.

***
ENAM puluh lima tahun kemudian, setelah peristiwa itu, saya selalu membayangkan Jenderal Ter Poorten menangis, menyesali keputusannya itu… (bersambung)

Jan 11, 2008

mendengar bunyi-bunyian di Ciater (liburan akhir tahun, bagian 1)




MELALUI suara-suara pada sebuah lembah, yang dialiri air hangat belerang dan kabut di kejauhan, kuabadikan ingatanku pada sebuah tempat. Suara-suara itu muncul bersahutan, utamanya jelang senja, melengkapi kesunyian yang seolah abadi.

Itulah pengalamanku, saat saya – beserta anak-istri dan mertua -- mengisi liburan di pemandian air panas dan penginapan Sari Ater, di kawasan Ciater, Kabupaten Subang. Kejadiannya pada akhir Desember lalu, ketika langit acap berwarna kelabu dan angin semilir menemani.

Tapi percayalah, suara-suara tersebut tidaklah muncul dari alam lain -- suara-suara itu barangkali pernah Anda dengarkan, bahkan amat sering, sehari-hari. Orang lain yang tinggal di tempat itu, mungkin juga istri dan mertuaku, aku yakin ikut mendengarnya. Namun ditelingaku, kala itu bunyi-bunyi tersebut kemudian menjadi berbeda.

Suara-suara muncul bersahutan, utamanya jelang senja tiba. Semuanya berirama, dan muncul dari arah yang berlawanan. Nadanya juga naik-turun, terkadang hilang karena disamun angin.

Awalnya kuanggap biasa, namun tiba-tiba ada tarikan dari dalam untuk mendengarkan lebih lanjut. Bunyi-bunyian yang pertama, muncul dari alat pengeras suara dari kantor pengelola penginapan itu. Sepertinya diputar dari sebuah kaset, suara itu adalah tembang Sunda, dengan kecapi dan degung sebagai alat musiknya. Sementara, dari arah yang berlawanan, dari corong menara mesjid terdengar lantunan ayat-ayat kitab suci..

Dan tatkala suara itu makin berirama, serta seiring kabut turun dari bukit berpohon pinus, rasa tentram, melankolis, mengenang sebuah tempat dan peristiwa, dengan sedikit melamun, pelan-pelan terbentuk di benakku. Kubiarkan ini terjadi apa adanya – tanpa campur tangan makna, dan keinginan untuk menganalisa. Saat itulah barangkali kurasakan apa yang disebut banyak orang sebagai keindahan..

Belakangan, setelah kejadian, aku mencoba bertanya tentang apa yang disebut sebagai mengalami keindahan. Pertama, kukatakan pengalaman itu sangatlah pribadi, dan tidak berlangsung lama – tapi membekas, karena aku selalu ingat kemudian. Kedua, ini lebih sebagai pertanyaan, apakah untuk mengalami keadaan seperti itu butuh suatu keadaan tertentu pula? Dan ketiga, betapa dahsyat kekuatan irama lagu atau musik! (saya lantas membayangkan bagaimana jadinya bila pidato para politisi diganti saja dengan alunan musik yang merdu..)

Bagaimanapun, tampaknya, di mana kita berada saat itu, tentu berpengaruh pula terhadap situasi batin, walaupun aku tak tahu persis berapa derajat pengaruhnya. Beruntung saat kami ke peristirahatan Sariater, tidak banyak pengunjung datang saat itu -- sehingga tak perlu pesan jauh-jauh hari, kami bisa mendapatkan kamar, serta kudapatkan situasi sepi itu tadi.

Rupanya, pilihan waktu kami ke sana, juga berpengaruh. Maklumlah, kami menyepi ke tempat itu, sehari setelah liburan Natal, dan lebih awal sebelum liburan akhir tahun. Tapi mengapa kami ke tempat itu?

Jangan kaget, perjalanan liburan kami jarang direncanakan secara matang. Acap mendadak, dan keputusannya dibuat dalam hitungan hari. Tapi percayalah, mengapa kami memilih Ciater, tentu ada latar belakangnya. Kali ini istriku adalah pelatuknya. Di masa kanak-kanaknya, istriku (yang lahir sekitar 15 kilometer dari sumber mata air belerang di Ciater) acap berlibur di sana. Itulah sebabnya, dia menyebut perjalanan ini sebagai wisata menjenguk masa lalu, alias bernostalgia.

Dan yang terjadi adalah, istriku – dan kedua mertuaku --sering membandingkan keadaan penginapan itu dengan kenangannya lebih dari 15 tahun lalu. “ Tak banyak berubah,” katanya dengan mata berbinar.

Aku sendiri sudah tiga kali ke sini. Ketimbang berlibur ke dataran rendah (pantai, misalnya), saya memilih di dataran tinggi. Rasanya aroma dataran tinggi, yang ditandai panorama pohon pinus di kejauhan, dan wajah beku penduduk desa yang bermantel, lebih menyenangkan ketimbang harus berkeringat, gerah…

Lokasi Sariater memang di dataran tinggi, sekitar 6 kilometer dari Gunung Tangkuban Perahu, di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dan tatkala masuk ke lokasi peristirahatannya, pemandangan dengan nuansa lama langsung terlihat. Harus kuakui, ada perasaan tenang, senang, nikmat, setiap memasuki sebuah tempat yang mengingatkan masa kecilku…

Taman yang luas, yang dihampari rumput hijau, yang dibiarkan begitu saja, tanpa dilekati atribut permainan baru. Di sana hanya terdapat ayunan besi yang selalu berderit jika digerakkan (mungkin karena kurang diberi pelumas), membuat masa kanak-kanak itu terlintas kembali -- kenangan akan masa lalu itu, rupanya bukan hanya milik istriku, tapi juga aku…

Dan bagaimana perasaan anakku? Saya tidak tahu, tapi pengalamannya menginap di sebuah peristirahatan yang tidak biasa (jauh dari rumah), menyediakan kolam renang (walau dia kurang suka air belerangnya), dan ayunan itu tadi, serta pengalaman naik kuda, tentu pengalaman yang menyenangkan…

Pengalaman berlibur ini, yang dihiasi suara-suara syahdu itu, tentu tak sepenuhnya indah. Pada malam hari, bebunyian lain justru menemani kami: gemuruh angin kencang membuat tidurku – dan istriku -- tak sepenuhnya nyenyak.. (bersambung)