Showing posts with label arsip. Show all posts
Showing posts with label arsip. Show all posts

Aug 7, 2007

Affan tempo doeloe


JARAK umur kami hanya bertaut 2 tahun, dia kelahiran Agustus 1965, sementara aku lahir pada tahun 1967, bulan November. Sekarang dia bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sementara aku masih berkutat sebagai wartawan di Jakarta. Terakhir bertemu abangku ini, saat aku meliput Asian Games di Qatar, Desember tahun lalu, dan pulangnya mampir ke kotanya....

MENENGOK ke masa lalu, mengapa tidak! Kalimat ini sengaja kutampilkan, untuk meneguhkan sikapku bahwa setiap orang barangkali tidak akan pernah bisa keluar sepenuhnya dari akarnya -- masa lalunya, masa kecilnya, atau lingkungan yamg membesarkannya, juga kebudayaannya.

Barangkali ada yang berupaya melupakan, tetapi kufikir dia akan selalu ingat... Tapi, tunggu dulu, sebetulnya apa salahnya dengan menengok masa lalu kita? Ada yang salahkah? Barangkali jawabannya, adalah soal takaran, masa lalu mana yang perlu diingat dan mana pula yang tak perlu diungki-ungkit lagi.

Nah, bagiku, dengan menampilkan lagi potret-potret kusam (yang sebagian besar hitam-putih) ini, aku bisa puas secara batiniah, bahwa ada sejarah yang panjang hingga aku menjadi ada seperti sekarang -- maka, bersyukurlah siapapun yang ikhlas melihat, dan berziarah, pada masa lalunya...

Jun 18, 2007

gado2


Aida dengan berbagai ekspresi

dari arsip lama

aida ada dimana-mana




aida 3rd bday




aida's bday




aida di mana-mana




baru




baru




My Photos




november




november 2




november 3




studio




si cantik




Aida ikut kampanye pembebasan wartawan BBC




PADA sebuah taman, namanya Taman Suropati, ratusan lilin itu dihidupkan pada 3 Mei 2007 lalu: semacam protes agar jurnalis di manapun dijauhkan dari praktek kekerasan. Inilah kampanye yang dikuti lebih dari 50 orang, menuntut agar jurnalis BBC Alan Jonhnston dibebaskan. Dan, seperti diketahui, melalui berbagai upaya, Alan akhirnya dibebaskan beberapa bulan kemudian setelah kampanye lilin itu.

Tentu saja, kampanye itu bukanlah segala-galanya -- dia mungkin suara samar-samar di tengah perang diplomatis dalam pembebasan itu. Tapi menurutku, kampanye itu menjadi penting, karena aku mengajak anakku dalam forum itu. Anakku, Aida, kami ajak untuk ikut serta dalam kampanye itu. Dia yang saat itu masih dititipkan pada sebuah daycare, kita jemput untuk bergabung, walaupun semula dia agak ngambek karena mengantuk -- tak ada pilihan lain, pikirku, dan kuanggap ini bagus buat pengalaman dia. Kuajak dia berbicara bahwa ada kejadian tidak beruntung yang menimpa seorang wartawan -- ini kuutarakan berulang-ulang sejak kasus ini muncul. Kupercaya dia memahami lamat-lamat..

DAN sesaat setelah acara dimulai, yang ditandai pembacaan semacam doa dan dukungan, diantaranya oleh pegiat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan koresponden BBC di Jakarta, maka adegan-adegan Aida -- yang memegang lilin, dan memasukkan tangan ke mulutnya -- dijadikan obyek pemotretan. "Sudah kuduga sebelumnya," begitu pikirku. "Kalau aku jadi wartawan foto, maka hal yang sama akan kami lakukan."

Besoknya, bisa ditebak, fotonya dipasang di sejumlah koran -- termasuk surat kabar Metro di London. Seorang rekanan kantor, segera mengontakku dengan sebuah pesan khusus "anakmu, Aida, fotonya dilihat se-London," katanya setengah berkelakar...

Aida sejak awal, semenjak dia bayi, sudah kami kenalkan dengan profesi orang tuanya: jurnalis. Walau ada yang mencibir, tetap saja kami melakoninya. Terakhir, pada bulan Juni, kuajak dia ke kediaman mantan Presiden Habibie, menemani bekas orang nomor satu di Indonesia itu kuwawancarai. Aida pernah kuajak pula ke Cikeas, kediaman Susilo Bambang Yudoyono, pada detik-detik dia menjelang jadi presiden...