Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Dec 31, 2008

"Kolak pisang" bikinan sendiri...

Rating:★★
Category:Other
AGAK frustasi lantaran sulit mendapatkan menu kolak pisang di sebagian tempat di Jakarta, yang akhirnya bisa kulakukan adalah bikin dan masak sendiri makanan "masa lalu" itu -- tentu ditemani istri, utamanya ketika bicara "kapan dan berapa air yang harus dicampur santan (instan)".

Dan, hasilnya, tak begitu mengecewakan. "Enak juga," kata istriku, seraya menyantap kolak pisang itu, hari Minggu (28/12) lalu. Anakku sayangnya belum terbiasa dengan makanan tersebut, dan menolak mencicipinya. Dalam dua hari, praktis kolak pisang itu akhirnya ludes -- setengah porsi tertinggal di kulkas di kantor.

Tapi kolak pisang (tanpa dicampur bahan lain, seperti kolang-kaling, atau ubi) adalah makanan favoritku. Utamanya, apabila kuah santan kolak itu kental, dan dicampur gula Jawa. Dan biasa kusebut sebagai "makanan masa lalu", karena yang kuingat makanan itu disajikan saat buka puasa -- dan ini artinya kolak pisang bikinan ibuku, dulu.

Dalam perjalanannya, aku pernah beberapa kali merasakan "varian" kolak pisang -- yang ternyata tidak tunggal. Ada warna kuahnya yang agak kelabu ("itu artinya dia nggak pakai gula merah," celetuk istriku), lalu bahkan dicampur es batu segala.

Yang terakhir ini, menurutku, agak aneh. "Karena, seingatku, kolak itu dahsyat rasanya kalau disajikan pas panas," jelasku, bila berdiskusi ihwal selera kolak di depan istri -- dan memang enggak bisa ketemu, akhirnya.

Tapi aku lupa jenis pisang apa yang kubeli kemarin. Tapi menurut penjualnya, bisa untuk digoreng -- dan kusimpulkan sendiri, itu artinya bisa juga dibikin kolak.

Dan seperti kusebut di awal, rasa kolak bikinanku itu (plus campur tangan istriku), lumayan juga -- untuk ukuran tukang masak pemula (he,he,he... ini pengalamanku pertama bikin kolak pisang). "Tapi jangan langsung dimakan dulu, biarkan pisangnya meresap dulu," katanya, setelah kumasukkan pisang dalam kuah santan yang sudah mendidih.

Dan kalau kusebut diriku agak frustasi ketika sulit mendapatkan kolak pisang, itu ada benarnya. Dulu ketika keinginan itu meluap-luap, aku di kala senggang ke sebuah restoran kecil di sebuah mal langganan -- biasanya di akhir pekan. Di sana, mereka menyediakan menu kolak pisang. Namun semenjak restoran itu berganti rupa, praktis aku cuma bisa menyantap kolak pisang saat ramadhan, atau ketika ibu mertuaku kebetulan membuat makanan itu. ***

Nov 15, 2008

Bakso Keju, bakso 'Akrom', dan kisah itu...

Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jakarta, Malang
"INI pentol, namanya! Di kota Malang, orang menyebutnya begitu," ujarku bersemangat di depan anakku, yang mulutnya penuh potongan pentol alias bakso, yang sudah kuiris-iris -- saya tahu, dia tak akan begitu peduli dengan ucapanku itu. Bayangkan, mulutnya yang mungil itu justru terus bekerja, dan, "Aida sekarang suka bakso, yang berisi keju!..."

Bakso keju -- alias pentol berisi keju. Para penggemar bakso di Jakarta, tentu sudah merasakan bakso jenis ini, dan sejumlah gerainya gampang di jumpai di sudut-sudut kota ini. Dan diantara sekian ribu konsumennya, anakku adalah salah-satu penggemarnya. "Asyik, kita makan bakso keju yuk," katanya girang, seraya menyebut nama perusahaan bakso itu.

Saya hampir selalu mengiyakan permintaannya -- tentu, bila dia belum makan dan tak setiap hari mengkonsumsinya. Dan beruntungnya, restoran penjual bakso itu, relatif tak jauh dari rumah kami di kawasan Sektor 9, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Hanya sekitar lima menit dengan kendaraan, kami sudah berada di restoran yang disain eksteriornya bernuansa kuning.

***

UKURAN pentol, alias bakso di restoran itu, cukup besar: sebesar bola tenis. Yang membedakan dengan bakso di tempat lain, di dalamnya tak melulu dipadati daging. Selain keju, ada yang diisi sumsum, urat, buntel (yang digoreng), serta tentu saja yang berisi daging padat -- heeem, yang terakhir adalah menu favoritku...

Bila ditanya kenapa bakso daging padat, tapi renyah dan 'klasik', lebih kusuka, jawabannya antara lain begini: rasa dan bentuknya mengingatkanku saat masa kecil, ketika pertama kali kenal dengan makanan asal Tiongkok itu.

Dulu, saat tinggal di kota Malang, di tahun 1970 dan 80'-an, aku dan saudara-saudaraku mengenal sebuah warung bakso yang terkenal. Letak warungnya, tolong dibayangkan, di sebuah gang sempit -- hanya motor bisa melaluinya. Jalannya agak menurun, tak jauh di belakang Masjid Jami' di kawasan Kauman, di pusat kota Malang...

Nama warung itu 'Akrom' -- saya tak tahu, dari mana nama itu, mungkin saja nama keluarga pemiliknya. Dan seingatku, ruangan warung itu sempit. Sepertinya bekas dapur, yang disulap sedemikian rupa. Pintu warung itu ada dua. Dan saya sering melalui pintu belakang, langsung ke dapurnya.

Dulu, dua kakak perempuanku selalu mengatakan, bakso akrom adalah "bakso Malang paling enak..."

***

SEBUTAN "bakso Malang paling enak" itu terpatri terus dalam benakku. Konsepku tentang bakso di kemudian hari, selalu bertolak dari konsep tersebut. Dan aku selalu berpikir: bakso itu adalah kumpulan pentol, mie kuning, tahu putih atau goreng; sementara di Jakarta, bakso itu pentol semata...

***

DI DALAM benakku, seingatku, pentol akrom ukurannya kecil, yang biasanya dipadu mie kuning (yang digulung), tahu goreng dan tahu putih, serta satu lagi yang sepertinya daging cacah yang digoreng dan dilumuri tepung -- aku lupa namanya.

Nah, yang khas, kuah dari bakso Malang itu bening. Bumbunya tak pekat. Paling-paling dicampuri potongan bawang goreng dan seledri. Dan satu lagi, aku agak lupa, sepertinya bakso Malang tak pernah dicampuri mie putih...

Namun dalam perjalanannya, ruangan sempit warung bakso Akrom, pernah sepi. Tak ada pengunjung yang datang ke sana. "Pemilik warung itu penganut Islam Jamaah", "Mereka punya masjid sendiri di lotengnya", dan "Pentolnya pakai daging babi"...

Itulah selentingan yang kudengar samar-samar di saat aku berusia kurang dari 15 tahun. Seingatku, ketika itu, isu Islam Jamaah menjadi gunjingan di media, dan bahkan menyeret dua atau tiga artis ibukota. Dan, orang-orang di Kauman dan sekitarnya termakan berita-berita itu -- termasuk aku.

***

TAPI bagaimanapun politik, dan isu agama, tak bisa mengalahkan rasa. Seiring luruhnya isu itu, aroma racikan bakso dari warung sempit itu, kembali memabukkan orang-orang di kampung Kauman dan sekitarnya -- yang kuingat dari kata-kata yang terlontar dari mulut ibu atau kakak-kakak perempuanku adalah "jahat sekali orang yang bikin fitnah..."

Aku lupa kapan persisnya Bakso Akrom berjaya lagi, tapi yang kuingat pelan-pelan kehadiran Akrom mulai tersaingi para pendatang baru. Kehadiran pemain baru di bidang per-bakso-an di kota Malang, tidak terlepas dari ide baru, kreativitas, dan modal yang tak cekak. Mereka menciptakan bakso berukuran besar (sebesar bola tenis), dan warungnya yang letaknya di belakang stasiun kereta kota baru Malang (makanya diberi julukan "Bakso Stasiun) pun dipenuhi para mania bakso....

Sekarang, sekian tahun kemudian, jangan kaget, ada banyak jenis atau varian bakso ala Malang itu -- seorang teman asal Jakarta, bahkan sempat tanya, "Fan, bakso Malang mana yang paling enak?" Jawabanku yang terkaang sok tahu, tak akan beda dengan jawaban warga kota Malang secara umum: "Bakso Presiden" (aku pernah mengajak istriku makan di warung itu, yang selalu bergoyang, jika kereta api lewat di sisinya) atau "Bakso Cak Man.." -- bakso Akrom tak kusebut..

(Beberapa kali pulang ke Malang, aku selalu tak sempat datang ke warung Akrom. Aku hanya mendengar, warung itu masih berdiri. Tetapi aku tak tanya lebih lanjut, apakah aroma bakso itu masih memikat...).

***

MENJEJAKKAN kaki di Jakarta awal 1997, aku kesulitan menemukan kenikmatan makan bakso, seperti "bakso Malang". Kuanggap bakso yang ada di Jakarta, kuahnya tak sepenuhnya bening, kaldunya sepertinya dibuat berlebih, dan ada mie putih.

Tapi pencarian itu datang juga, ketika istriku -- sekitar pertengahan 2000 -- mengajakku ke restoran yang menyebut baksonya sebagai bakso Malang. Dan rasanya memang mengingatkanku pada bakso Akrom. "Ini dia bakso Malang.."

Belakangan, pilihan warung bakso itu makin beragam, termasuk restoran yang menjual menu bakso keju, yang disukai anakku itu. Tapi kata istriku "bakso keju bukan khas kota Malang, tapi itu bakso Solo.."

Aku memang akhirnya tak mendebat kata-kata istriku. Aku agaknya harus mengkoreksi konsep "bakso Malang" yang mengendap di otakku (atau di ujung lidahku?). Apa pasal? Ternyata menu bakso berisi daging padat di restoran berdinding kuning itu enak sekali rasanya -- apalagi dipadu kuah panas yang bening, daun seledri, bawang goreng, serta sambal hijau...

Pada akhirnya, rasa melampaui identitas, politik, atau sesuatu yang mengatasnamakan agama... ***





Feb 1, 2008

Bakpao Ibu Maria

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Chinese
Location:Jakarta
"FAN, mau beli bakpao kah? Ini saya bawa, bakpao isi unti..." Suara seorang ibu dengan logat Menado, tiba-tiba memecah suasana kantor, hampir saban pagi. Biasanya, Ibu Maria, begitu dia begitu disapa, datang seraya membawa bungkusan plastik. Isinya, selain bakpao, dia juga membawa kue sambosa, kucur, atau apem...

Saya biasanya memilih bakpao, yang isinya berupa kelapa yang dicampur gula merah -- Ibu Maria menyebutnya bakpao "unti". Kupilih bakpao unti, dan bukan yang isi keju atau kacang ijo, tentu ada latarnya. Dulu, dulu sekali, bakpao ini gampang kudapatkan, karena faktor ibuku -- seminggu sekali biasanya dia rajin membuat penganan ringan yang kita makan bareng-bareng saat sore hari...

Dari kebiasaan mengkonsumsi bakpao jenis itu, sejak masa kanak-kanak itulah, aku punya gambaran: bakpao itu selalu berisi parutan kelapa dicampur gula merah. Dan ketika di jalan, aku melihat penjual bakpao dengan isi kacang ijo atau daging, aku selalu heran. "Kok nggak ada yang seperti dibuat ibuku?"

Semenjak saat itulah (sejak aku meninggalkan kota Malang, tempat masa kecilku, tahun 1996), rasanya sulit menemukan bakpao "unti", sebelum akhirnya aku bertemu Ibu Maria. Kapan persisnya saya kenal ibu asal Menado, Sulawesi Utara itu, saya lupa -- mungkin sekitar tahun 2006.

Yang jelas, ibu yang gemar mengenakan baju bermotif bunga ini, menjual penganan itu dengan mendatangi langsung kantor tempat saya bekerja. Dia diantar suaminya yang mengendarai sepeda motor. Sebagian penganan itu dititipkan suaminya, sementara dia menawarkan sebagian ke penghuni setiap kantor di sejumlah lantai pada gedung itu. "Selain ke sini (Gedung Deutsche Bank, Jalan Imam Bonjol), saya juga punya langganan di gedung BII (Jalan Thamrin)," ceritanya, suatu saat.

Tidak semua teman di kantor menggemari bakpao itu. Mungkin cuma saya, dan satu orang lagi. Saya biasanya beli 4 buah, satu untuk sarapan, sisanya buat sore hari. Sambil menyeruput kopi panas, atau teh panas, bakpao unti ala Menado itu kumakan pelan-pelan, seraya mata melototi komputer...

Kalau ditanya bagaimana rasanya, tentu jawabanku subyektif: enak, karena porsi antara parutan kelapa + gula merah (nggak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit) dan bakpaonya pas. Apalagi kalau masih hangat, wah, nikmat sekali..

Jan 23, 2008

Warung sate Jalan Sabang...

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Dekat Sarinah Jalan Thamrin, dekat Jalan Sabang
DALAM banyak hal, saya pilih restoran, biasanya lebih didasari "mana yang lebih dekat kantor atau rumah" -- utamanya saat di kantor. Adapun menu dan rasa masakan, lazimnya, selalu nomor dua. Alasan ini pula yang membuatku mendatangi sebuah restoran berukuran kecil, yang letaknya di dekat pertigaan Jalan Sabang dan Jalan Wahid Hasyim (di samping Toserba Sarinah), Jakarta Pusat.

Saya hampir tidak pernah tahu nama restorannya (belakangan kuketahui namanya 'Jaya Agung' -- tapi, saya yakin para karyawan atau pekerja di kawasan itu mengenalnya sebagai warung "sate kambing"). Dulu saat bujangan, jika ada waktu luang, usai kerja, saya sempatkan ke sana. Biasanya juga dengan rekan sekantor. Dan setelah menikah, saya dan istri ganti menyambanginya -- salah-satu restoran yang kemudian kami sebut "layak dikunjungi"...

Ciri khas restoran ini adalah letaknya di pinggir jalan yang padat. Juga asap yang selalu mengepul dari pembakaran satenya -- "asapnya itu yang bikin kangen," kataku dalam hati. Ciri lainnya adalah meja kasir, kursi-kursi pengunjung, berikut mejanya, yang dibiarkan menyita trotoar pejalan kaki.

Tapi apa kelebihan warung sate yang pemiliknya asal lamongan, Jawa Timur ini? Inilah yang kelak membuatku meralat motivasi mendatangi restoran itu: tidak hanya soal jauh-dekat dari kantor. Lebih dari itu! "Daging kambingnya yang empuk," kata istriku, suatu saat. Memang betul, sate kambing warung itu adalah andalannya. Biasanya, selain pesan sate itu, kami pesan pula gulai kambing, nasi, serta jeruk hangat. Kami biasanya pilih kursi di bagian dalam...

Dec 3, 2007

Tahu Campur 'Arteri Pondok Indah'

Rating:★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jakarta Selatan
HARUS menunggu lebih dari 4 tahun, semenjak tinggal di Jakarta (tahun 1997, Februari), saya akhirnya bisa merasakan Tahu Campur Lamongan, yang cocok di lidah -- sebelumnya hampir tak pernah, kecuali jika saat mudik ke Malang...

Kejadiannya antara tahun 2000-2001, itu pun atas inisiatif istriku, yang kebetulan pernah mampir dan makan di warung Tahu Campur Lamongan (nama kota pesisir di Jatim, sekitar 80 kilometer dari Surabaya), di Jalan Arteri Pondok Indah (sekarang, Jalan Iskandar Muda), Jakarta Selatan. Hampir tiap malam, sepulang kerja, kami lewati jalan itu, sehingga mau-tidak-mau mata kami tertuju ke warung tersebut..

Kalau ditanya kenapa harus menunggu lebih dari 4 tahun, jawabannya bisa macam-macam. Pertama, barangkali lantaran saya awalnya kurang begitu tertarik wisata kuliner -- sehingga tak bernafsu memburu makanan kesukaan. Kedua, ini jawaban klasik, alasan kesibukan pekerjaan (sehingga cari makan sekenanya, yang sesuai selera, dan bisa mengganjal rasa lapar). Tapi semua alasan ini hilang perlahan semenjak saya menikah...

Akhir pekan lalu, saya dan istri kembali menggoyang lidah, mengudap tahu campur Lamongan itu. Saat pulang dari kantor, di tengah-tengah kebingungan "harus makan apa", tiba-tiba terlintas untuk mampir ke warung di pinggir jalan itu -- letaknya di sisi kiri Jalan Iskandar Muda, dari arah Kebayoran Lama (baru), setelah toko Holland Bakery. "Kita udah lama nggak makan di sana, kayaknya enak laper-laper begini," kataku seraya melirik istriku.

Walaupun kami sadar agak butuh energi untuk mengambil jalan ke posisi kiri, karena padatnya lalu-lintas, dan polusi yang lumayan tinggi, tapi kami memutuskan untuk mampir ke sana. "Perut kosong rupanya mengalahkan segalanya," begitulah saya berkata pada diri-sendiri, hampir selalu, seolah menisbihkan faktor-faktor itu tadi..

Tapi memang rasa tahu campur itu tidak mengecewakan, setidaknya itu menurutku. Istriku yang dulu kurang begitu suka, belakangan mengatakan "lumayan enak juga". Saya, seperti biasa, kesulitan mendeskripsikan apa faktor penyebab makanan itu pas di lidah. Akhirnya yang kulakukan, membandingkan dengan makanan serupa yang kupesan di tempat lain. "Bedanya pada bumbunya, lebih terasa, nggak anyep," jelasku, kalau ditanya apa enaknya tahu campur 'arteri pondok indah'...

Setahuku, isi makanan Tahu Campur itu terdiri: tahu goreng, sayur sawi, daging sapi yang dipotong kecil-kecil, lengkap dengan tulang lunaknya, serta cingur (istilah lainnya apa ya?), perkedel kentang. Lainnya adalah bumbu petis, mie kuning.. dan krupuk..

Sebagian orang-orang asal Jatim yang kukenal, mengaku pernah mampir ke warung itu. Salah-satunya teman asal Jember, yang sudah lama tinggal di London. Kuajak pertama kali 3 tahun silam, sekarang dia selalu bertanya "masih mampir ke warung tahu campur itu Fan.." Pertanyaan ini kutafsirkan bahwa seleranya sama denganku..

Mungkin kekurangan warung itu (atau justru kelebihannya?), letaknya di pinggir jalan -- walaupun tetap saja banyak mobil berderet parkir di depan warung itu, yang pemiliknya beraksen Jawa Timur-an, pada malam-malam tertentu (belakangan, pemilik warung itu menyewa lahan parkir gedung kantor di belakangnya, sebagai lokasi parkir)..

Juga tempat duduknya yang terbatas, membuat konsumen harus menunggu di luar bila kursi penuh -- ini tentu sulit kalau Jakarta tengah diguyur hujan. Lainnya? "Itu vitamin D, yang selalu kita hirup kalau lagi nongkrong di warung itu," seloroh istriku. Vitamin D yang dimaksud itu adalah "Debu"...

Pada malam itu, usai makan 1 piring ditambah sepotong lontong, saya iseng tanya, kenapa tidak pindah ke lokasi yang lebih baik, pemiliknya cuma tertawa. Dia cuma cerita, warung ini didirikan tahun 1994, dan tidak pernah ke mana-mana. "Dulu warung kita di sebelah sana, karena pemilik gedungnya nggak berkenan kita sewa lagi, ya lantas kita pindah" jelasnya. Sekarang keluarga asal Lamongan itu mendirikan tenda di depan sebuah gedung lainnya (kira-kira 200 meter dari lokasi yang lama), dengan cara "membayar kepada petugas tramtib" secara teratur dan membayar sewa lahan parkir pemilik gedung...

Nov 20, 2007

Yogurt ala Cafe Cisangkui

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Desserts
Location:Bandung, Jawa Barat
URUSAN restoran mana di Kota Bandung yang wajib dikunjungi, lantaran kelezatan menunya, memang istriku jagoannya. Itulah sebabnya, tatkala telunjuknya mengarah kepada sebuah lokasi kudapan di kota itu, saya hampir tak pernah menolak -- maklum, selain menggemari wisata kuliner, dia pernah lebih dari 7 tahun tinggal di kota itu.

Dan pada akhir pekan lalu (17-18 November), saat plesir ke Bandung, saya, istri dan anakku kembali mendatangi sebuah restoran "wajib kunjung" itu. Lokasinya tidak jauh dari Gedung Sate, di pusat kota Bandung. Persisnya di Jalan Cisangkui, yang tempatnya rindang karena pepohonannya. Namanya Cafe Cisangkui, sesuai nama jalannya...

"Yoghurt-nya paling top, nggak ada bandingnya," begitu komentar istriku, saat mengajakku pertama kalinya ke warung itu, tahun 2000. Saya, seingatku, tak menolak ajakannya, saat itu. Kufikir, layaklah diamini ajakannya mengingat kegemarannya itu tadi, serta tentu dia lebih memahami peta tempat kudapan di Bandung..

Hasilnya? Tak mengecewakan, sungguh! Ujung-ujungnya, setiap kami plesir ke Bandung, kami biasanya makan siang di tempat itu -- biasanya kami memilih tempat duduk di halaman atau teras, dengan harapan dapat merasakan semilir angin dari rimbun pepohonannya. (Harus diakui pula, kami pilih restoran bekas bangunan masa kolonial Belanda itu juga didasari konsep rumah makan tamannya)

Jika daftar menu sudah di tangan, saya biasanya memilih soto bandung sebagai makanan utamanya (istriku kemarin memilih siomay, sementara anakku biasanya plih kentang dan sosis). Setelah itu, barulah yoghurt strawberry atau leci saya pilih sebagai minuman pendampingnya -- atau utama?

"Coba diperhatikan, di dalamnya selalu disertakan buah strawberry atau leci, atau anggur.. Ini barangkali yang membedakan dengan yoghurt lainnya..," jelas istriku. Aku sendiri kesulitan mendeskripsikan faktor kelezatan yoghurt Cisangkui, selain rasanya yang tak sepenuhnya masam, ada rasa manis, dan tak sepenuhnya bikin nek..

Dan siang itu, yoghurt cisangkui, memang betul-betul kami nikmati. Kami pesan 3 gelas ukuran besar, 1 rasa leci dan 2 strawberry... Dan lantaran anakku, Aida, kurang berkenan dengan rasa yoghurtnya, maka saya dan istriku menggenapkan kelezatan yoghurt restoran itu, dengan menghabiskan sisa jatah anakku..





Nov 16, 2007

Rujak Manis 'Semeru'

Rating:★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Malang, Jawa Timur
APA beda rujak manis di Jalan Semeru, Malang, dengan rujak manis di daerah lain? Bukannya materi buah-buahannya sama saja -- mulai mangga muda, jambu air, nanas, jambu biji, atau bengkoang? Sebagai penggemar rujak manis, saya katakan: tak ada yang beda, kecuali cara mereka meramu bumbunya -- inilah salah-satu ciri khas rujak manis 'Semeru' ...

Barangkali bumbu seperti ini ada di daerah lain: gabungan antara kacang dan gula merah, sambal (dipisah, diletakkan di pinggir piring), kecap, serta bahan racikan lain yang saya tak paham. Tapi, entah bagaimana, rasanya akhirnya tak sekedar manis, agak kental, dan warnanya kehitaman -- dulu, kacang itu ditumbuk agak kasar, namun belakangan diblender sehingga jadinya lebih halus..

Sayangnya, saat saya mengunjunginya pada pertengahan Oktober lalu, buah mangga belum musim seperti sekarang, sehingga jumlah irisan mangga mudanya cuma sedikit -- bayangkan, apa enaknya rujak manis tanpa buah mangga muda?

Lokasi warung rujak semeru terletak di halaman rumah agak mewah, di samping Stadion Gajahyana, di Jalan Semeru. Sejak berdiri lebih dari sepuluh tahun lalu, warung rujak semeru tak begitu berubah, kecuali atapnya yang kini dibuat semi permanen. Perubahan lainnya jumlah kursi dan mejanya makin bertambah..

Selain menyediakan es degan, krupuk dan tahu goreng, ciri khas lain yang terlihat di warung itu adalah kecepatan dan kebersihan -- tukang pengupas buahnya menggunakan semacam pembungkus plastik. Dan supaya konsumennya tidak menunggu relatif lama, mereka memiliki sedikitnya 4 karyawan, dengan tugas yang berbeda.. (tapi tetap saja, seperti saya saksikan tempo hari, antrian panjang masih terlihat).

Perbedaan lainnya, harga rujak semeru memang relatif lebih mahal. Jika di tempat lain 5 atau 6 ribu rupiah, maka mereka mematok 8 ribu rupiah -- tapi percayalah, harga sebesar itu menjadi relatif tatkala rujak dengan buah menggunung, dan bumbunya yang khas, tersaji di depan kita...


Nov 15, 2007

Cwi Mie 'Dempo'

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Chinese
Location:Malang, Jawa Timur
AKHIRNYA saya tergoda menuliskan hasil wisata kuliner, saat mudik ke kota Malang, pertengahan Oktober silam. Salah-satu lokasi tempat makan yang saya kunjungi adalah Cwi Mie 'Dempo' -- nama Dempo diambil dari nama jalan di situ, sekalian sebutan SMA Dempo (atau SMU Katolik St Albertus), tidak jauh dari Jalan Ijen..

Tidak sulit menemukan lokasinya. Sebagian warga kota Malang tentu tahu letak persis warung cwi mie itu, karena sejumlah angkot melewati jalan di dekatnya. Di sana berjejer sejumlah warung tenda, yang tidak hanya menjual cwi mie, tapi juga bakso khas Malang, es campur dan es kelapa muda -- yang terakhir ini biasanya diburu pengunjung, setelah menikmati masakan utamanya, yaitu cwi mie itu tadi.

Saya tidak tahu persis sejak kapan warung cwi mie itu berdiri -- seingatku, saat saya SMA (sekitar tahun 1985), nama warung-warung itu sudah dikenal. SMA Dempo sendiri dikenal sebagai salah-satu sekolah menengah tertua di kota Malang -- salah-satu alumninya adalah mendiang Rudini, mantan Mendagri jaman Suharto (rumahnya masih berdiri tidak jauh dari warung itu, yaitu di Jalan Ijen, dekat museum Brawijaya)..

Tapi apa istimewanya cwi mie Dempo? Pertanyaan yang sulit buat saya, tapi menurut istriku (warga Jakarta yang setidaknya baru 4 atau 5 kali mengunjungi kota Malang), "mie dan kuahnya itu yang beda, enak sekali..." Ukuran lainnya, warung itu selalu dipenuhi pengunjung -- pada Oktober lalu, kami sekeluarga mesti menunggu hingga setengah jam!

Mirip sajian masakan serupa di Jakarta, cwi mie Dempo juga menyertakan pangsit, pentol (sebutan warga Malang untuk bakso), serta daging ayam yang sudah diracik -- kuah panas juga disertakan di dalamnya.

Yang membuat saya penasaran, mengapa selalu dikenal istilah cwi mie Malang di Jakarta, selama ini? Seolah-olah ada cwi mie lain yang diidentifikasi dengan daerah lainnya -- tapi nyatanya saya belum mendengarnya. Pertanyaan serupa juga berlaku untuk bakso Malang, walaupun ada pula bakso Solo..

Nah, setelah kembali ke Jakarta, tentu ada keinginan kembali untuk mengudap cwi mie ala kota Malang. Biasanya saya mendatangi restoran cie mie Roellis, entah di wilayah Rempoa-Bintaro, atau di seberang Citos.. Rasanya tak jauh beda dengan cwi mie Dempo, walau mungkin suasana dan atmosfirnya jelas berbeda...