Showing posts with label liputan. Show all posts
Showing posts with label liputan. Show all posts

Nov 12, 2008

Anda setuju, rumah Bung Karno dibangun kembali?

TAHUKAH Anda di manakah lokasi saat Bung Karno -- didampingi Bung Hatta di sebelah kirinya -- membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, di sebuah pagi, tanggal 17 Agustus 1945?

Tidak semua orang tahu, begitulah kenyataannya. Kondisi seperti inilah yang membuat prihatin sejumlah veteran, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa penting itu, serta para saksi mata.

Sehingga, sebagian dari mereka berencana membangun kembali rumah tempat teks proklamasi itu dibacakan, yang kini telah rata dengan tanah. Sejumlah sejarawan, pemerhati sejarah dan disokong pihak permuseuman Jakarta, terus mengkampanyekan agar proyek rekonstruksi rumah proklamasi ini, dihidupkan kembali.

Tetapi mengapa sebagian arkeolog mempertanyakan proyek ini?

***

DI SEBUAH siang, pada bulan September lalu, saya mendatangi lokasi yang disebut-sebut bekas rumah milik Bung Karno. Saya memang tengah menyiapkan liputan tentang rencana pembangunan bekas rumah bersejarah itu. Seraya melangkah kaki ke arah tempat tersebut, saya membayangkan bagaimana bentuk rumahnya -- dalam ingatanku, gambaran yang selalu terlintas adalah, saat dua orang proklamator itu berdiri di teras depan rumah, yang beratap canopy terbuat dari kain bergaris-garis (seperti yang acap ditunjukkan foto usang karya fotografer IPPHOS...).

"Saya tidak tahu, di mana letak bekas rumah itu," kata seorang lelaki berkacamata, saat kutanya secara iseng. Percakapan ini terjadi di taman tugu Proklamasi, di Jalan Proklamasi, tak jauh dari bioskop Megaria atau Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Di dalam areal itu, sekitar 15 meter di sebelah kiri saya, berdiri patung Sukarno-Hatta, sementara di belakang ada tugu peringatan 1 tahun proklamasi, yang berukuran kecil. Adapun Gedung Pola (yang di tahun 60-an, disiapkan Sukarno sebagai tempat menggodok perencanaan pembangunan Indonesia ke depan).

Informasi di mana persisnya letak rumah itu, sebelumnya sudah kudapatkan, tetapi samar-samar. Ada yang mengatakan, rumah itu dulu berdiri di areal yang sekarang berdiri gedung POLA. Namun ada yang menyebut pula, letak persis teras rumah itu, kini dibangun tiang "halilintar". Saya siang itu akhirnya menemukan tiang beton yang lingkarannya berdiameter lebih dari 100 sentimeter, dan di atasnya terpasang logam berbentuk halilintar.

"Di sinilah dibatjakan proklamasi kemerdekaan Indonesia..." begitulah tulisan pada sebuah logam, yang ditempel di bagian bawah tiang tersebut.

***

SEMINAR rekonstruksi rumah Bung Karno, begitulah bunyi sebuah spanduk, yang dipasang di tembok depan Hotel Cemara, di kawasan Menteng, Jakpus. Digelar selama dua hari pada pertengahan Agustus lalu, acara ini dihadiri sejumlah pejabat dari kantor dinas Kebudayaan dan Permuseman DKI Jakarta, sejarawan, pemerhati sejarah, para veteran, serta seorang arkeolog.

Di sela-sela rehat makan siang, saya bertemu pemerhati sejarah yang juga wartawan senior, Alwi Shahab. Dia begitu bersemangat mendukung rencana pembangunan kembali rumah proklamasi itu. Menurutnya, sebagian besar generasi muda sekarang menganggap proklamasi kemerdekaan dibacakan di Istana Merdeka. "Sehingga rumah proklamasi yang sekarang menjadi gedung POLA itu, perlu dibangun kembali, karena tempat itu bersejarah," tegas Alwi.

Rencana ini sepertinya akan berjalan serius. Melalui seminar itu, sang tuan rumah, yaitu Kantor Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, akan membawa hasil seminar itu ke pemerintah pusat -- agar direalisasikan, dengan tentu saja sembari berharap dapat guyuran dana. Dan mudah ditebak, dalam diskusi hari pertama, semua peserta dan pembicara berduyun-duyun mendukung rencana pembangunan kembali rumah BK.

"Di rumah itu pula kabinet pertama RI bersidang beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan," tegas sejarahwan Universitas Padjadjaran, Bandung, Doktor Sobana Hardjasaputra.

Selain itu, Eddy Syafuan salah-seorang pembicara, yang juga pemerhati sejarah, mengatakan, mempelajari sejarah tidak cukup hanya melalui buku-buku sejarah. Warga masyarakat, menurutnya, perlu juga tahu di mana persisnya peristiwa sejarah itu terjadi.

"Kalau peristiwa proklamasi kemerdekaan, hampir semua tahu itu. Tapi anak-anak itu juga ingin tahu, seperti apa ya rumah BK seperti di foto-foto itu," tegas Eddy, bersemangat.

"Jangan sampai orang datang ke sana, dan berfikir bahwa BK membaca teks proklamasi itu persis di bawah patung proklamator... Itu salah kaprah!"

***

DARI seminar terungkap pula, kenapa Bung Karno membongkar rumah tersebut, pada tahun 1962 -- namun sepertinya tidak ada keterangan tunggal. Seorang peserta mengatakan, rumah itu dihancurkan, karena presiden pertama ingin memindahkan semangat proklamasi kemerdekaan ke Monumen Nasional (Monas). Sementara Eddy Syafuan mengatakan, rencana pembongkaran itu sempat dipertanyakan oleh Gubernur Jakarta saat itu, Henk Ngantung.

"Dan, ada lagi sentilan yang mengatakan, BK membongkar (rumah) atas desakan itu. Nah, di dalam salah-satu statement Henk Ngantung, dia mengatakan (anggapan) itu tidak benar. Malah seolah-olah (dia) mengatakan BK seolah-olah merestui (pembongkaran rumah tersebut)," jelas Eddy.

Alkisah, pada tahun 1962, tiba-tiba Sukarno memutuskan akan membongkar rumahnya, yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. "Berita itu," demikian menurut makalah yang dibuat oleh Komite Pembangunan Rumah Proklamasi, "muncul secara ekstrim di berbagai koran ibu kota." Henk Ngantung, pejabat Gubernur DKI Jakarta saat itu, dilaporkan merasa prihatin terhadap rencana itu. Dia lantas menemui Presiden, membujuk agar membatalkan rencana itu.

Namun bujukan itu tak kuasa meluruhkan hati Sukarno. "Apakah kamu juga termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku," jawab Bung Karno di hadapan Henk Ngantung, seperti dikutip Alwi Shahab. Dan tanpa alasan yang jelas, menurut makalah itu, dan kini masih merupakan misteri, pembongkaran jadi dilakukan -- yang kemudian disesalkan sebagian orang di kemudian hari.

Tapi usaha Henk Ngantung, tidaklah seluruhnya sia-sia. Presiden dilaporkan setuju di kemudian hari, rumah itu dapat dibangun kembali.

"Untuk keperluan itu, Gubernur Henk Ngantung menugaskan sejumlah stafnya untuk membuat maket, foto-foto, dan menyimpan sejumlah perabot rumah tangga agar dikemudian hari dapat dipergunakan secara semestinya," kata pemerhati sejarah, Rushdy Hoesein, yang pernah dilibatkan dalam proyek pembangunan kembali rumah itu, di masa Presiden Suharto berkuasa.

***

DI SELA-SELA seminar itu, saya beruntung bertemu Rushdy Hoesein, lelaki berambut perak, yang pernah dilibatkan dalam upaya merekonstruksi rumah Bung Karno (yang ditinggali sejak tahun 1942), dulu. Rupanya, ide seperti ini pernah diupayakan, sekian tahun silam, tetapi juga gagal. Siang itu, dia membawa sebuah salinan buku yang isinya berupa disain dua dimensi rumah itu, berikut foto-foto. Dengan bersemangat, Rusdhy bercerita betapa rumah itu bersejarah.

"(Rumah itu) tempat tinggal BK, lalu tempat proklamasi Ketiga, (tempat) perundingan dengan Belanda jaman (perdana Menteri) Syahrir sampai perundingan Linggarjati (1947). Dan tahun 1949, tempat persiapan pengakuan kedaulatan rakyat (oleh Belanda). Kemudian tahun 1957, ada musyawarah besar, di mana Bung Hatta tak lagi menjadi wapres, dan masyarakat meminta agar dwi tunggal terbentuk lagi."

Rushdy lantas bercerita, di masa Presiden Suharto berkuasa, pernah ada ide untuk membangun kembali rumah itu. Saat itu, katanya, ahli sejarah, toko masyarakat, serta saksi sejarah meminta agar Presiden Suharto membangun kembali rumah tersebut. "Pak Harto mengatakan, 'Yang mbongkar saja nggak setuju... Sudahlah kita akan mengenang beliau... Saya akan bangun patung proklamator yang gede'," ungkap Rushdy menirukan Pak Harto.

"Tapi orang 'kan menilai itu kan patungnya Pak Harto, meski sosok patungnya proklamator. Lagipula posisinya tak tepat, banyaklah koreksinya. Tapi, ya sudah, kita terima... Patungnya 'kan juga bagus," tambah Roesdy.

Disebutkan, tahun 2002, sejumlah veteran angkatan 45 pernah memunculkan kembali ide pembangunam rumah itu, dan tampaknya berlangsung serius. Melalui pembicaraan yang panjang, sampai tahun 2005, mereka sudah sampai pada satu titik, yaitu membangun kembali rumah itu sepersis mungkin dengan aslinya -- dan akan dijadikan musium proklamasi.

Bahkan saat itu sudah dibentuk Komite Pembangunan Rumah Proklamasi, yang disebutkan melibatkan kalangan profesional -- mulai arsitek yang berpengalaman dalam konservasi gedung bersejarah, serta sejarawan. Rushdy Hoesein, salah-seorang anggota komite itu, mengatakan, saat itu kerja panitia sangat serius, termasuk menggali pondasi bangunan tersebut, yang ternyata masih utuh.

Tetapi, proyek ini tidak berjalan. Dia menjelaskan, selain kendala dana dan masalah politik, penyebab lainnya adalah polemik tajam antara kalangan sejarawan dan arkeolog tentang cara merekonstruksi rumah itu. Rushdy kemudian menyebut nama seorang arkeolog senior, Profesor Mundardjito, yang disebutnya paling kritis mempertanyakan proyek itu.

Hari Kamis pada pertengahan September lalu, saya menemui Profesor Mundardjito di kediamannya, dan ternyata sikapnya tak berubah.

"Biarkan sisa fondasi bangunan yang ada, jangan didirikan bangunan di atasnya!" Tegas Mundardjito, yang dulu pernah berperan dalam pembangunan kembali Candi Borobudur. Dia mengusulkan, agar fondasi bekas bangunan itu digali dan diungkap, dan dikonservasi sedemikian rupa.

"Jadi, nanti biarlah orang mengerti seperti inilah denah bangunan yang tersisa apa-adanya. Namun masyarakat juga harus diberitahu, bahwa rumah ini dulu dibongkar, yang mungkin atas inisitaif Bung Karno sendiri," jelas Mundardjito.

Kalau ingin membangun rumah seperti aslinya, Mundardjito yang guru besar Universitas Indonesia, menyarankan begini, "Warga harus tetap diberitahu, bahwa ini bukan gedung aslinya, tapi kira-kira seperti inilah bentuknya," tandasnya.

Dan, menurutnya, bangunan tiruan ini jangan dibangun di atas fondasi aslinya. "Jangan dibangun di situ (fondasi yang lama), tapi di luar itu," kata Mundardjito, serius. Dia menambahkan, "Buat saja model (rumah)dalam bentuk miniatur, atau sebesar aslinya, itu silakan. Tapi tolong jangan di atas lokasi yang lama. Itu sangat ditentang arkoelog, karena itu tidak asli."

Keinginan Mundardjito ini bertentangan dengan niat orang-orang yang ingin mendirikan rumah baru di atas fondasi asli tersebut, seperti ditegaskan Eddy Safyuan, pemerhati sejarah.

Menurutnya, rumah baru lebih baik dibangun di atas fondasi bekas rumah yang lama. "Biarkan saja gedung POLA ada di belakang, jangan dibongkar, karena itu juga punya sejarah tersendiri," jelasnya, seraya menambahkan, gedung POLA adalah saksi bisu rencana Sukarno dalam melaksanakan kebijakan pembangunan semesta berencana.

Eddy menghormati alasan para arkeolog, yang berangkat dari segi disipilin ilmunya. Namun menurutnya, pembangunan rumah Sukarno adalah untuk kepentingan lebih luas. "Kenapa di negara besar seperti Amerika Seikat, bisa membangun kediaman presiden pertama George Washinton? Kenapa kita tidak ambil contoh baik seperti itu," katanya.

***

EDDY Safyuan dan para pendukung ide pembangunan kembali rumah itu, menganggap, yang penting rumah itu dibangun semirip mungkin dengan aslinya. Apalagi, mereka mengaku telah menemukan foto-foto, disain rumah itu sebelum dibongkar, serta saksi sejarah.

Tapi Mundardjito menganggap, syarat-syarat itu tidaklah cukup. Menurutnya, apabila ingin dibangun di atas fondasi yang lama, harus ada tembok yang tersisa, sehingga bisa diketahui bahan asli bangunan itu. "Namun semua ini tidak terpenuhi," katanya.

Lebih dari itu, menurut Mundardjito, jika proyek ini dipaksakan, bisa merusak keaslian situs asli fondasi itu. Dan cara berfikir seperti ini, tegas Mundardjito, bisa membahayakan kebenaran akademis yang relatif dan terus berkembang. Dia kemudian mengusulkan, agar dibangun maket berukuran kecil yang bisa ditinjau ulang. Maket ini menurutnya dapat diletakkan di dekat fondasi asli, berikut memberi latar belakang sejarah bangunan tersebut.

"Lay out itu bisa direkonstruksi, agar nanti ada sejarawan lain bisa menilai ulang, 'oh bukan begitu, tugunya bukan di situ'. Nah, ganti lagi, taruh di sini... Jadi, ini sebagai rekonstruksi yang akademik sifatnya, yang boleh diganti sesuai pemikiran orang-orang yang punya data baru. Ini namanya perkembangan pemikiran orang-orang, yang tidak terus jadi berhenti," jelas Mundardjito. Dia khawatir apabila gedung baru dibangun di fondasi yang lama, orang-orang dipaksa untuk berhenti berfikir.

***

TIDAK adanya titik temu diantara kedua pihak ini, sayangnya tidak tampak dalam seminar rekonstruksi rumah Bung Karno itu. Pembicara dan peserta seminar justru mengamini agar pembangunan itu jangan ditunda lagi. Mereka lantas usul, jika rumah baru itu berdiri, dijadikan musium seputar peristiwa proklamasi kemerdekaan.

Para peserta seminar kemudian menyatakan, akan berupaya sekuat tenaga untuk meyakinkan pemerintah pusat agar segera mengeluarkan dana, supaya proyek pembangunan kembali Rumah Bung Karno bisa segera terealisasi, dan sama-sekali tidak memasukkan keberatan para arkeolog. ***

Oct 29, 2008

Usai kabut meleleh di Pulau Nusakambangan...




KABUT tipis yang beraroma laut menyelimuti sebagian pucuk pepohonan yang tumbuh lebat di Pulau Nusakambangan, hari Jumat pagi pekan lalu. Suara pagi berupa bunyi mesin perahu klotok dan peluit kapal feri, serta klakson kendaraan yang hilir mudik di dermaga itu, menyelusup di antara wajah-wajah malas para wartawan -- yang mulai dijangkiti rasa bosan, karena menunggu proses eksekusi tiga terpidana bom Bali yang tak juga digelar...

Saya dan teman-teman wartawan, memang nyaris tak beranjak dari dermaga milik LP Nusakambangan, di Kota Cilacap, Jawa Tengah, sejak isu eksekusi hukuman mati terhadap tiga terpidana itu bergulir. Dermaga itu memang pintu keluar-masuk resmi, walau ada lebih dari lima dermaga milik instansi lain yang menghubungkan Cilacap-Pulau Nusakambangan.

Dan kami hanya bisa menunggu, karena keputusan itu sepenuhnya di tangan "elit" di Jakarta. Kenyataan lainnya, rombongan jurnalis itu dilarang masuk ke Nusakambangan yang hanya berjarak "lima belas menit dengan menggunakan perahu klotok."

Dari dermaga berukuran kecil itulah, yang bisa kita lakukan akhirnya semata menyaksikan pulau Nusakambangan, walaupun indera dan pikiran terus membayangkan "isi" pulau yang acap diidentikkan dengan Pulau Al Catraz, bekas pulau penjara di Amerika, tempat hunian penjahat klas kakap.

Juga mencoba mengkhayal bagaimana dulu penjahat sekelas Johnny Indo mencoba kabur, tetapi akhirnya tertangkap. Serta pula, mengingat-ingat bagaimana kisah Tomi Suharto -- yang pernah mendekam di sana -- "bergaul" dengan penjaga dan narapidana, di dekat selnya yang luks.

(Saya di dermaga itu, bertemu seorang pemilik perahu klotok, yang dulu dibiayai orang-orangnya Tomi untuk membeli perahu, dengan harapan memudahkan mereka hilir-mudik Cilacap-Nusakambangan).

***

"MUNGKIN eksekusi atas tiga orang terpidana Bali itu akan dilakukan pada Jumat dini (24 Oktober lalu) hari nanti," begitu selentingan yang menyebar. Kabar itu makin diyakini kebenarannya, karena Kejaksaan Agung disebutkan akan menggelar jumpa pers pada hari Jumat (24 Oktober lalu), namun belum jelas isinya, apakah akan menerangkan "hasil eksekusi" atau "kapan eksekusi akan dilaksanakan."

Saya beruntung datang agak belakangan -- hari Kamis, 23 Oktober lalu, sementara ada beberapa jurnalis yang datang lebih awal. Bahkan seorang wartawan sebuah stasiun televisi lokal, disebutkan telah berada di Kota Cilacap, sejak dua bulan silam. Wartawan perempuan ini memang dikenal spesialis liputan yang "nyerempet" bahaya. "Saking lamanya, warga di sekitar pelabuhan kenal wartawan itu," kata sopir ojek, yang setiap hari menunggu di depan pintu masuk pelabuhan kecil itu.

***

MENUNGGU adalah bagian kerja wartawan. Kalimat ini akhirnya yang kuulang-ulang untuk meyakinkan diri, agar tak jenuh dimakan waktu. "Jadi, yang cuma bisa kita lakukan adalah menunggu di Dermaga, dengan berharap ada peristiwa itu di sini," kata wartawan lokal, sebuah kantor berita nasional, agak masygul. (Kami akhirnya mempraktekkan istilah "pasang telinga" bak radar, mencatat semua informasi sekecil apapun, demi memproleh kepastian eksekusi).

Dua hari hilir-mudik di dermaga itu, membuat kami akhirnya akrab dengan orang-orang di sana. Salah-satu orang itu bernama Risno, tukang ojek motor -- yang akhirnya kusewa selama 2 hari liputan di kota Cilacap, Jawa Tengah. Dia bersama istri dan empat anaknya, tinggal di sebuah gubuk kecil berdinding bambu tidak jauh dari pelabuhan tersebut.

"Kota Cilacap itu, ya besarnya segitu saja, dan letaknya di ujung lagi, mentok!" celetuk Risno, agak berteriak, mengimbangi suara mesin motornya, memecah keheningan jalanan kota Cilacap di sore hari. Kalimat ini keluar dari mulutnya beberapa detik setelah aku secara spontan mengomentari geografi kota ini, "ternyata kotamu bersih ya, dan sepi..."

Aku saat itu sengaja minta diajak berkeliling mengitari sejumlah jalan protokol kota -- sebuah ritual yang acap kulakukan saat mengunjungi atau liputan di sebuah wilayah baru. Ini terjadi menjelang kepulanganku ke Jakarta, setelah mendapat kepastian eksekusi itu akan dilakukan awal November nanti.

Dihiasi langit Cilacap yang kelabu, dan dihampari tanah basah akibat hujan, kurang dari satu jam, kami bisa mengunjungi tempat wisata Teluk Penyu, melihat belasan kilang minyak berukuran raksasa, serta mengintip Benteng Pendem peninggalan kolonial Belanda...

***
TERIAKAN "huu!" memecah siang itu, ketika sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan siaran langsung dari gedung Kejaksaan Agung, sekitar pukul 2 siang, hari Jumat lalu. Kami, para wartawan, menunggu dengan tak sabar di ruangan masuk dermaga, di depan layar TV berukuran kecil. Reporter TV itu menyebut, eksekusi baru akan dilakukan awal November nanti...

Pengumuman itu menjengkelkan, tetapi sekaligus melegakan. Sebagian wartawan merasa jengkel, karena itu artinya kedatangan awal mereka sia-sia. Namun di sisi lain, bisa juga disebut melegakan, karena kepastian itu akhirnya datang juga...

Dan dengan menyisakan pertanyaan "kapan persisnya Amrozi dkk dieksekusi mati", saya akhirnya harus meninggalkan Cilacap. Pada Sabtu (25 Oktober) pagi yang diwarnai gerimis , mobil sewaan kami akhirnya meninggalkan pemandangan indah di kejauhan: kabut turun perlahan dan meleleh di pepohonan lebat Pulau Nusakambangan... ***

Feb 29, 2008

Sabtu malam besok, aku terbang ke Inggris...

PUNGGUNGKU terpampang di Tabloid olahraga BOLA! Ini serius, saya tidak berseloroh! Ha,ha,ha...Pada rubrik “Dari Redaksi” tabloid itu, ada foto seorang lelaki – yang cuma terlihat punggungnya – tengah mewawancarai lelaki lain di depannya. Nah, “foto seorang lelaki” itu adalah saya…


Kisahnya, pada malam itu, rekan sekantor, Sigit, menelepon. Suara baritonnya terdengar renyah, "Fan, sudah beli BOLA yang baru?"

Belum, kujawab. "Kalau begitu, beli segera ya.." Kenapa, kutanya lagi agak penasaran. Sigit pun akhirnya bercerita...

Rupanya, saat wawancara, fotografer tabloid itu mengabadikan peristiwa yang berlangsung hari Rabu lalu (20 Februari), di kantor BOLA. Saya, saat itu, tengah menginterviu salah-satu wartawan BOLA, Broto Happy, yang dikenal sebagai spesialis liputan bulutangkis – tempatku bekerja juga acap mengontaknya.


Broto kuhubungi, karena pada pekan ini, saya membuat laporan “di luar kebiasaan”. Kusebut demikian, karena jarang sekali aku bersentuhan dengan liputan olahraga bulutangkis. “Sekalian belajar,” begitu alasanku, tanpa basa-basi. (Ah, aku jadi ingat, wartawan itu acap disebut tipe “generalis”, karena tuntutan mengetahui berbagai hal (walau cuma sepenggal), sementara seorang ahli bidang tertentu biasa dianggap “spesialis..)


Jadi, apa salahnya, kucari orang yang kuanggap paham tentang bulutangkis, sekalian kujadikan tempat bertanya serta mewawancarainya…


Laporan ini akan diputar sehari sebelum pembukaan kejuaraan bulutangkis All England, pada awal Maret (4-9 Maret) nanti, di Kota Birmingham, Inggris. Sebelum bertemu Broto, saya dua kali kunjungi Pelatnas tim bulutangkis Indonesia di kawasan Cipayung, Jakarta Timur – di komplek pelatihan itu, saya menyaksikan foto-foto perjalanan tim pebulutangkis Indonesia yang melegenda, mulai Rudi Hartono sampai Susi Susanti, yang ditempel di ruangan. (Di sana pula, kulihat sosok legenda lainnya, Luis Pongoh, yang senyum "bayi"-nya tidak berubah seperti belasan tahun silam, saat dia masih memegang raket..)


Nah, pertanyaannya kemudian, kenapa saya diberi tugas buat laporan kesiapan tim bulutangkis Indonesia? Inilah yang ingin kuceritakan. Awal Maret nanti, saya dapat tugas meliput kejuaraan bulutangkis All England. Dan, kalau tak ada aral melintang, saya akan berangkat tanggal 1 Maret, pukul 23.00 Waktu Indonesia Barat, dengan maskapai Emirates…


***


LEBIH dua pekan silam visa kunjunganku ke Inggris, akhirnya kelar – “silakan bapak ambil, barusan diantar dari kedutaan”, suara perempuan dari pesawat telepon begitu terdengar merdu, pagi itu. Dengan langkah kaki yang kurasakan enteng, siang itu juga kuambil paspor hijau itu (di lantai 22 gedung Abda, dekat British Council, Jalan Sudirman) – hujan gerimis yang jatuh dari langit Jakarta, akhirnya tak begitu kupedulikan.


Tanah Inggris, dalam bayanganku selama ini, memang seperti magnit – warna kelabu langitnya berikut gedung-gedung tuanya; bunyi “koak-koak” burung gagak di pelataran Tower of London; serta pohon-pohon oak yang daunnya rontok (berikut bentuk daunnya yang khas); serta sebuah hutan kecil di sebuah desa di wilayah Petersfield...


Ini memang bukan kunjunganku yang pertama.
Bila pesawatku kelak mendarat di Bandara Heathrow, awal Maret nanti, berarti ini adalah kunjunganku ketiga ke tanah Inggris – pertama kuinjakkan kaki di London, pada Desember 2002, dan kedua pada Februari 2004.


Itulah sebabnya atmosfir negara itu, utamanya kota London dan pinggirannya, rasanya sudah begitu kukenal – saya jadi teringat sebuah aroma yang selalu menyergap saat kakiku turun di Bandara Heathrow, tapi selalu sulit kujelaskan seperi apa bau-bauan itu…


Rencananya aku tinggal satu bulan di Inggris, sepekan di Birmingham (kira-kira 2 jam perjalanan dengan kereta api dari London, untuk meliput kejuaraan bulutangkis All England). Sisanya, saya membantu tim London.. sampai akhirnya kembali pada 31 Maret 2008.

***


"POKOKNYA, Walid balik dari London tanggal 3 Maret, karena itu ulang tahun teman Aida,” kalimat ini meluncur dari mulut anakku, satu bulan lalu. Anakku rupanya “tidak rela” ayahnya pergi jauh – entah apapun alasannya. Tapi, aku dan istri sepakat: mesti cerita apa adanya, bahwa Walid “mendapat tugas liputan bulutangkis ke Inggris dan tinggal selama satu bulan”.


Itulah sebabnya, saya sengaja bercerita ihwal rencana perjalanan itu jauh-jauh hari – dan, awalnya memang tidak mudah. Dan ini adalah ide istriku, “biar dia nggak kaget, dan sekalian biar dia memahami bagaimana kerjaan bapaknya.”

Kebiasaan ini akhirnya selalu kulakukan -- hampir pada setiap ada liputan, entah di luar kota atau pulau, atau luar negeri. Hasilnya memang terlihat, walaupun prosesnya tidak segampang yang dibayangkan.


Dan perjalananku ke Inggris kali ini, bukanlah dalam waktu singkat. Sebulan aku bakal meninggalkan anak dan istriku – ya, ampun siapa bisa menahan rasa kangen itu! (Sebelumnya belum pernah aku selama itu – paling-paling 3 minggu paling lama: saat ke Inggris tahun 2002, ke perbatasan Kalimantan Timur hingga ke Mataram tahun 2005 hampir 15 hari,  liputan rusuh Abepura di Papua selama 10 hari; serta liputan tsunami yang memakan lebih dari 2 pekan).


"Kalau Aida kangen Walid, kan bisa menelpon, atau kirim email ke Walid,” aku mencoba melanjutkan percakapan, Jumat malam, sehari jelang keberangkatanku. Ini terjadi di dalam mobil, di perjalanan pulang dari kantor. Istriku mengajaknya, untuk menjemputku – sekalian belanja apa yang harus kubawa besok. “Walid kalau kangen, juga pasti menelepon Aida...”


Semula dia mau menjawab pertanyaan itu, tapi dengan kalimat singkat “ya, Lid..” Namun dia bertanya lagi, dengan kalimat yang mulai tercekat.

“Kok lama di Inggris, kok satu bulan?”

“Kan setelah liputan bulutangkis, Walid ada tugas di kantor London,” kataku, dengan nada yang kubuat ramah.


Pertanyaan ini dia ulang-ulang, dan kucoba menghiburnya, bahwa satu bulan tidak akan terasa lama, asal “Aida beraktivitas seperti biasanya,” kata istriku, mencoba membuatnya nyaman. Upayaku untuk membujuknya, terus kulakukan saat kami sampai di rumah. Saya coba yakinkan sekali lagi bahwa “kita nanti akan ketemu lagi..” Tapi, senyumnya yang hilang itu membikin aku sedih... (saya lantas teringat perjalanan tugas ke Inggris tahun 2002, tanpa anak-istri, membuat perjalanan itu akhirnya tidak sepenuhnya nikmat..).


Jan 23, 2008

Tsunami Aceh, dan foto-foto itu...

"KAU berada di Aceh 'kan, saat tsunami itu terjadi?" Kalimat ini dilontarkan seorang rekan, pada pekan lalu, di sela-sela liputan perawatan mantan Presiden Suharto -- dia bercerita pengalamannya.

 

Saya mengiyakan -- dengan menggerakkan dagu ke atas, dan ke bawah, tanpa mengeluarkan suara: nafas rasanya tercekat. Ada semacam keengganan mengingat kembali saat liputan tsunami Aceh, 4 tahun silam. Tapi, kupaksa mendengarkan celoteh temanku itu tadi, seraya terbayang kembali kejadian-kejadian saat itu... 

 

Saya, setelah liputan tsunami Aceh, selalu berusaha melawan "keengganan" itu, walaupun rasanya begitu sulit -- tapi kupaksa selalu. Caranya, aku mencoba siap menerima apapun, entah itu kisah-ulang, cerita, foto, atau apalah. Harapannya, tentu agar aku lebih bisa menerima kenyataan yang terjadi saat itu...

 

Dan, masih dalam kerangka keinginan itu, di bawah ini kusajikan lagi awal kisahku, yang kutulis 4 tahun silam, dua pekan setelah kejadian...

Sudah saatnya saya bisa berbagi pengalaman ini:

 

DIBANDINGKAN hari-hari awal setelah bencana, suasana Banda Aceh siang itu relatif berubah. Suasana hiruk-pikuk di Bandar Udara Iskandar Muda, yang terlihat ramai di minggu pertama, kini tidak seramai dulu. Pesawat-pesawat berukuran besar yang bertugas mengirim bantuan ke lokasi terpencil di pesisir barat, misalnya, saat itu tidak terlihat sibuk.

 

Saya kembali tiba di kota Banda yang hancur itu, setelah  sempat  tinggal tujuh hari di awal kejadian tsunami. Sebagian wilayah kota  Banda yang lolos dari terjangan tsunami, pekan itu juga jauh lebih hidup. Sejak  enam hari di kota ini, saya, misalnya  telah hampir tiap pagi minum kopi Aceh -- di sebuah warung tidak jauh dari pendopo, rumah dinas Gubernur Aceh. Nasi dengan gulai yang menurut selentingan dicampur dengan daun ganja juga sudah mengisi perutku.

 

Pasar-pasar yang menjual buah langsat, serta rambutan, sempat pula kudatangi. Wilayah yang luluh-lantak di dekat laut, seperti Pasar Malam Rex mulai terlihat  dibenahi. Puing-puing dan rerutuhan yang dulu menyerupai bukit, kini tidak lagi terlihat, meski bangkai kapal nelayan berukuran raksasa masih teronggok di depan Hotel Medan.

 

Mayat-mayat yang di awal-awal masih gampang dijumpai di jalanan, saat itu tidak terlihat -- kecuali di bawah puing-puing yang belum tersentuh.  Tapi yang tidak berubah adalah foto-foto itu, berikut keterangannya -- yang dicopy dan ditempel dalam lembaran kertas seukuran folio di beberapa  sudut kota. Mataku otomatis  akan tertuju pada gambar-gambar itu, karena dipasang di tempat yang begitu mencolok.

 

Di bandara, misalnya, kertas-kertas itu ditempel di tiang-tiang, di ruang  kedatangan bandara yang gampang terlihat. Walau kertasnya sudah terlihat lusuh dan sedikit terlipat di ujung-ujungnya, dan warna tintanya mulai buram, tetap membuat orang yang lewat di situ melihatnya.

 

Saya pun akhirnya merapat di depannya. Seolah gambar dalam foto-foto itu meminta  berbagi kerinduan akan hidup. Juga, mungkin harapan akan pertolongan saat ombak setinggi setinggi 6-7 meter mengedor pintu rumah mereka – pada pagi itu.

 

“Dicari Unzir, suami 24 tahun dan Sani, istri 20 tahun.” Pasangan ini tinggal di Dusun Tualang, di Kabupaten Aceh Timur. Aku tak tahu alamat ini, tapi menurut cerita teman-teman, lokasi ini adalah bagian yang hancur akibat tsunami.

 

Dalam foto itu Unzir dengan mata sayu tampak memeluk Sani, sementara sang istri yang duduk di depan tangannya merengkuh dan membelai pipi atas Unzir. Agaknya saat pemotretan, Sani agak malu-malu. Senyumnya dikulum. Sepertinya pemotretan dilakukan secara otomatis di studio boks.

 

Enam hari saya tinggal di Banda, kertas pengumuman lengkap dengan foto mencari keluarganya yang hilang, masih menempel di sudut-sudut kota, tapi ada yang mengatakan, kini sebagian keluarga korban -- satu bulan setelah kejadian, mulai bisa menerima kenyataan bahwa sebagian keluarga mereka memang telah mati.

 

Aku sendiri menyaksikan di sebuah lokasi pengungsian di wilayah Mata’i, di pinggiran  kota, tidak lagi terlihat pengumuman yang disiarkan dari corong suara: tentang orang-orang yang kehilangan keluarganya. Ini terjadi setelah 3-4 hari setelah kejadian. Kini suara-suara itu hilang.

 

Tetapi siapa yang bisa mengukur apakah orang-orang itu telah bisa menerima kenyataan tragedi itu? Seperti apa bentuk kongkrit bentuk penerimaannya? Lantas, bagaimana dengan foto-foto itu yang  dibiarkan menempel dan dilihat banyak orang, sehingga ingatan itu selalu terjaga?

 

Saat-saat pertanyaan itu muncul, aku bertemu seorang kawan lama, yang sama-sama asal kota Malang. Kita dulu bertetangga, dan sekarang dia jadi relawan sebagai tukang cerita atau pendongeng bagi anak-anak korban di wilayah pengungsian.

 

Saya bertemu dia di lokasi pengungsi di wilayah Mata’i, tepatnya di komplek sekolah calon Tantama milik TNI. “Saya sering menjumpai  anak yang masih trauma. Ketika saya sodori spidol dan kertas putih, mereka menggambar laut yang ganas dengan tsunaminya.” Begitu cerita teman saya itu.

 

Yuda Andi, nama teman saya di masa kecil itu, lantas menjelaskan model terapi yang dia terapkan. “Saya ajak mereka menggambar laut tapi dengan laut yang indah. Pantainya menakjubkan lengkap dengan matahari yang terbenam.”

 

Dia begitu yakin – karena, menurutnya, anak-anak itu harus menerima konsep takdir: bahwa Yang mencipta dunia  itu ada, dengan keputusan takdirnya “entah buruk atau baik.”

 

Yuda, yang juga seorang karikaturis, menawarkan medium gambar sebagai obat untuk menyembuhkan trauma anak-anak korban tsunami.

 

Setelah bertugas beberapa hari, dia meninggalkan anak-anak itu. Di sinilah saya lantas bertanya lagi, apa yang bisa kau berbuat lagi terhadap anak-anak sementara kau harus balik ke Jakarta. Yuda lantas menjawab, “Aku buatkan gambar foto diriku, dengan harapan mereka  selalu ingat saya dan pesan-pesan saya.”

 

Kupikir-pikir terapi temanku itu tidak lain adalah menghibur agar anak-anak itu bisa berusaha melupakan kejadian itu -- dengan kegiatan lainnya. Kali ini Andi menggunakan gambar sebagai hiburan.

 

Tapi, bagaimana dengan foto orang-orang hilang itu,  yang dibiarkan menempel dan dilihat banyak orang, sehingga ingatan itu selalu terjaga? Bukankah itu mirip dengan terapi gambar pantai indah yang diberikan temanku itu tadi kepada anak-anak itu?

 

Pertanyaan itu muncul kembali saat saya membuka kembali beberapa halaman surat kabar Serambi Indonesia dan Waspada. Di sana, ternyata, kudapatkan dua halaman berisi pengumuman  orang hilang -- berikut potret dirinya.

 

Kutatap foto diri mereka satu-satu, dan tidak terasa mataku berkaca-kaca. Kalau sudah  begini, aku lantas bertanya ulang: jadi, sebetulnya siapakah yang trauma? Adakah saya yang sudah 6 hari di sini (Banda), dan sebelumnya 7 hari tinggal di antara korban tsunami, ikut pula terkena trauma?

Aku tak begitu yakin akan jawabanku: apakah aku trauma atau tidak. Aku sendiri kesulitan punya satu kata yang tepat untuk mewakili apa yang disebut sebagai situasi perasaanku saat itu.

Mungkin kata yang mudah-mudahan bisa mewakili: menikmati kesedihan – kesedihan yang tidak menetap, tepatnya. Soalnya aku kadang-kadang aku masih tertawa, tersenyum saat melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang datang dari luar atau sisi dalam diriku. (Banda Aceh, Januari 2005, sebulan setelah bencana tsunami…).

Sep 16, 2007

Di bawah Museum BI, ditemukan benteng




SEBUAH reruntuhan benteng kota yang didirikan sedikitnya 400 tahun lalu, ditemukan di bawah komplek sebuah museum di kawasan kota tua Jakarta. Inilah benteng kota yang merupakan cikal-bakal kota Jakarta, sekarang ini. Penggalian arkeologis ini menemukan fondasi salah-satu sudut benteng itu, juga piring, pipa rokok serta gigi milik orang Belanda. Mengapa penggalian ini penting, dan bagaimana metode penggalian arkeologis ini dilakukan?

RUANGAN Museum Bank Indonesia, yang letaknya di depan Stasiun Kota dan disamping Museum Bank Mandiri, Jakarta, siang itu terlihat didatangi para pengunjung. Museum yang terus dibenahi itu dulunya adalah kantor Bank Indonesia, yang mulai dibangun tahun 1910 dengan nama De Javasche Bank – milik pemerintah colonial Belanda.

Sebagian pengunjung barangkali mengagumi arsitektur gedung yang terlihat terawat itu. Tapi belakangan rasa kagum itu makin bertambah, karena di dasar kompleks museum itu ditemukan sebuah sejarah panjang berdirinya kota Jakarta. Eddy Basuki adalah Duty Manager Museum Bank Indonesia (BI).
“Memang sejak awal diduga di areal BI ini, dulunya ada bangunan-bangunan tua sudah yang terkubur. Nah, sebelum berdirinya Javasche Bank, ini adalah bangunan rumah sakit yang ada di dalam suatu benteng. Nah, karena berada di dalam, berarti ada benteng yang melingkupi…”

Penasaran ingin mengetahui seperti apa bentuk benteng yang terkubur itu, saya ditemani seorang staf museum, mendatangi lokasi penggalian. Letaknya ternyata di halaman belakang gedung itu. Di lokasi itu ada sebuah lubang dan di dalamnya ada susunan batu bata dan karang.

Memang, bangunan itu sudah tidak berbentuk. Yang tertinggal hanyalah fondasi salah sudut benteng, atau disebut bastion. Namun demikian, menurut arkeolog Profesor Mundardjito, yang memimpin proses penggalian ini, temuan ini penting.

“Kita mau coba untuk menunjukkan kepada masyarakat di kota Jakarta, bahwa di bawah kota yang sekarabng, terdapat kota-kota lama. Dan kita ingin membuktikan bagian-bagian yang ada, karena kota ini umurnya 400 tahun lebih. Jadi nanti orang nanti bertanya, mana sih kota yang dulu itu atau sisa-sisanya itu. Jadi kita ingin menjelaskan kota ini jati dirinya sudah lama, identitasnya sebuah kota lama. Nah, kalau itu tidak ditunjukkan, orang tidak akan melihat bukti itu,” jelas Mundardjito.

Seolah berlomba dengan kecepatan perkembangan kota Jakarta yang seakan tidak mempedulikan masa lalunya, Profesor Mundardjito begitu bersemangat saat dipercaya Bank Indonesia untuk menemukan bukti-bukti keberadaan benteng kota itu.

Sejak bulan Juli lalu, maka proses pencarian bukti arkeologis pun dilakukan. Mundardjito yang berpengalaman melakukan penelitian serupa, mengaku ini pekerjaan yang tidak gampang, karena terlau banyak struktur bangunan di bawah tanah. Itulah sebabnya, bekas guru besar Universitas Indonesia ini menggunakan peta-peta kuno Jakarta sebagai metodenya:

“Dan benar bisa ketemu, berdasarkan peta-peta itu. Peta-peta itu dimulai dari tahun 1628, 1650, 1667, 1681, 1740, 1780, 47, 50, terus digabung, lalu dikaitkan dengan citra satelit google earth tahun 2007, dioverlay dengan keadaan sekarang. Dari situ, kita masih melihat ada sungai, jalan, ada bekas kanal, sehingga kita bisa mengetahui, oh, dulunya ini ada sesuatu di bawah. Nah, atas dasar itu, kita gali di bawahnya,” katanya.

Kesulitan itu akhirnya terbayar. Setelah dilakukan penggalian pada kedalaman 40 sentimeter, Mundardjito dan timnya menemukan susunan batu bata. Di bawahnya lagi mereka menemukan susunan bongkahan batu karang. Inilah fondasi salah-satu bastion, yang seluruhnya berjumlah 27, bagian dari benteng kota. Namanya bastion Hollandia, yang letaknya di sudut barat daya benteng.

Benteng itu sendiri tingginya 3 meter lebih. Didalam galian itu, mereka juga menemukan sejumlah artefak. “Ada keramik eropa, keramik cina, ada bekas paku, plat besi, piring, ada bata yang warna kuning, ada pula genteng, pipa rokok keramik Belanda yang panjang. Dan, yang menarik ada gigi palsu, dibuat dari keramik. Dulu itu ‘kan rumah sakit. Ada pula gigi taring, yang dicabut akarnya sampai terlihat akarnya. Jadi ada dokter yang nyabut…”jelas arkeolog ini seraya tertawa.

Dari penelitian atas dokumen sejarah, serta sejumlah gambar atau lukisan tentang panorama Jakarta kuno, Mundardjito menyimpulkan, benteng kota ini dibangun antara tahun 1629 dan 1650. Musium Fatahillah adalah bangunan pusat di dalam benteng.

Kalau memakai peta sekarang, menurutnya, benteng kota ini membentang dari museum Bahari di dekat pelabuhan Sunda Kelapa sampai pelataran Museum Bank Indonesia dan Bank Mandiri. Museum Bahari sendiri adalah bagian dari benteng tersebut.

Tapi mengapa akhirnya benteng ini dibongkar pada masa Gubernur Jenderal Daendels?
“Daendels pada abad 18 telah membongkar tembok kota benteng itu, dan batu batanya digunakan untuk membangun gedung Depkeu di lapangan Banteng. Kenapa dibongkar? Karena kota Batavia lama itu, banyak penyakit, malaria, tipus, kolera. Kira-kira ada 19 macam penyakit yang membuat orang Belanda meninggal dunia, bahkan kira-kira 90 persen lebih meninggal. Oleh karena itu, Daendels mengusulkan agar dipindahkan. Nah, mulai saat itulah kota lama terlihat tidak ada lagi, digantikan kota yang baru,” paparnya.

Dari peta tahun 1917 yang dimiliki Profesor Mundardjito, kota Jakarta kuno memperlihatkan perubahan drastis. Benteng kota tidak ada lagi, dan kanal-kanal sebagian ditimbun, yang sebagian menjadi rel kereta api dan trem. Lainnya menjadi jalan seperti yang tersisa pada masa kini. Setelah penggalian tahap awal ini dilakukan, Mundardjito ingin mengembangkan lebih lanjut. Tapi apakah semua lokasi bekas benteng akan digali?

“Nah kalau beberapa spot (titik) kita sudah tahu, ya itu sudah cukup buat kita. Kita tidak akan membuka seluruhnya ‘kan. Membongkar-bongkar bangunan sekarang, ‘nggak. Cuma di tempat-tempat kosong, barangkali perlu kita tampakkan sebagai bagian dari sebuah kota, dan berhubungan satu sama-lain. Jadi kita lihat ada inter action, antara satu tempat dengan tempat lain, ketika itu ‘kan. Di situ kepentingannya. Tapi kita tidak bisa mengikuti semuanya itu, tinggal sisa-sisanya kita tunjukkan. Jadi nanti harus kita buka, kita beri kaca jadi bagian outdor museum, biar orang bisa lihat. Sementara Indoor museum di dalamnya. Pengunjung bisa melihat semuanya”.

Jika sisi utara benteng kota itu sudah diketahui, yaitu Musium Bahari, dan pada sisi selatan ditemukan galian di bawah museum Bank Indonesia, maka Mundardjito masih punya keinginan menggali sudut bagian barat dan timur. Tentu ini tidak mudah, begitu katanya, karena di atasnya barangkali sudah berdiri bangunan yang juga dikategorikan bersejarah.

“Satu pelestarian di kota seperti ini, harus ada win win solution. Dalam arti kita trade off, mana yang harus bisa kita dikorbankan. Tetapi di dalam pengorbanan itu, ada bagian yang harus ditampakkan. Andaikata ada dinding yang sudah rusak, kita mau ganti baru, barangkali bisa saja, kalau tidak ada jalan lain. Tapi ada bagian yang lama biar tetap dan ditutup kaca. Nah, tunjukkan yang lama dan ini yang baru. Sehingga apa yang lama dan yang baru, orang bisa melihat evolusi perkembangan tekonoligi dan macam-macam. Jangan lupa yang itu.”

Kehadiran anak-anak yang memadati salah-satu ruangan di Museum Bank Indonesia inilah, yang nantinya diharapkan Mundardjito dapat mengetahui perjalanan kota Jakarta, melalui penemuan fondasi benteng itu. Masalahnya, menurutnya, sebagian masyarakat belum sadar akan pentingnya bukti-bukti itu. Dia mencontohkan pembangunan terowongan yang menghubungkan stasiun Kota dengan pelataran depan Bank Mandiri, yang dianggapnya kurang memperhatikan penggalian yang benar.

“Tentu harapan saya, arkeologi perkotaan ini harus dikembangkan. Jangan sampai kota itu , bekas bangunan dibongkar dan dijadikan mal, lalu digantikan yang baru, tanpa memperhatikan apa yang ada di bawah. OK saja kalau orang mendirikan sekarang. Tapi sebelumnya digali lebih dulu, supaya bisa ditampakkan, difoto dan direkam dan bisa ditunjukkan. Peristiwa itu ‘kan harus diketahui oleh kita. Dan dibuktikan. Nanti kita menjadi negara dongeng dong, kalau kita menuliskan dulu di sini ada ini, ada bangunan ini, mana sekarang, nggak ada. Cari sini, sana, nggak ada lagi, karena dibongkarin semua ‘kan. Itu namanya kita negara dongeng…”

(Disiarkan Radio BBC Siaran Indonesia, untuk rubrik seni dan budaya, hari Minggu, 16 September 2007)

Aug 23, 2007

ada pistol di sidang Munir...




"GILA bok, gue diperiksa sampai 5 kali..," cetus seorang wartawan, sesaat dia tiba di depan ruang sidang Peninjauan Kembali, PK, kasus terbunuhnya pegiat HAM Munir, Rabu kemarin. "Wuih, belum pernah pengamanan kayak gini, diluar sidang teroris..," celetuk jurnalis lainnya, setengah mengeluh. Tetapi seperti itulah situasi pengamanan sidang kasus Munir itu. Keterangan pejabat polisi menyebutkan, ini dilakukan karena untuk mengamankan para saksi kunci --yang dianggap penting untuk bisa mengungkap siapa pembunuh pegiat HAM itu... Nah, di sela-sela liputan itu, aku memotret sejumlah momen dari luar ruangan sidang..

40 Tahun Oom Pasikom: Karikatur Tepo Seliro…


GM Sudarta, seorang karikaturis yang dianggap paling berpengaruh di Indonesia, sejak bulan Juli lalu sampai Januari tahun depan, memamerkan karya-karya karikaturnya --yang dibuatnya sejak tahun1967 sampai sekarang. Inilah pameran karya lelaki kelahiran tahun 1945 yang disebut paling lengkap dan terbesar, sejak pencipta toko kartun Oom Pasikom pada rubrik karikatur Surat Kabar Kompas ini menekuni profesi tersebut.

PENAMPILAN Gerardus Mayela, atau GM Sudarta, 62 tahun, tetap tidak berubah: selalu berpakaian serba hitam dan gampang mengumbar senyum. Kegemarannya bermain piano juga dia perlihatkan, di sela-sela pembukaan pameran karikaturnya di Bentara Budaya, Jakarta, pada awal Juli lalu. Di ruangan itu, lebih dari 100 karya-karyanya, yang sebagian besar menampilkan tokoh kartun rekaannya, yaitu Oom Pasikom, dipamerkan.

"Waktu itu tahun '67, saya ingin punya mascot, karena saat itu koran-koran lain pakai mascot, dan saya ingin wajah seorang yang di atas angin dan tidak pihak kemana-mana," katanya.

Saat itu, Sudarta membayangkan, toko rekaannya itu lahir tahun 1930-an, sehingga tidak masuk Angkatan '45 atau '66 - saat itu memang tengah ada dualisme masalah latar belakang 'angkatan'. Dan dia tidak terjebak dalam situasi pengkotakan seperti itu. "Sehingga saya bikin orang yang khas internasional. Dia senang pakai jas meski tambalan, serta dia senang pakai topi golf karena suka main golf, dan dia suka berbahasa Belanda," jelasnya.

Dari pencarian itulah, kemudian lahirnya seorang toko karikatur yang diberi nama Pasikom. "Nama itu muncul setelah saya baca sebanyak 3 kali… si Kompas, si Kompas, si Kompas, nah muncullah nama itu. Lalu saya panggil oom sebagai paman, karena orangnya sudah setengah tua," kata GM serius. "Itu awalnya muncul toko Om Pasikom…"

Melalui tokoh kartun Oom Pasikom itulah, yang dimuat di Surat Kabar Kompas sejak 40 tahun silam, Sudarta melontarkan kritik terhadap segala carut-marut persoalan di Indonesia. Tetapi yang barangkali membedakan dengan karya karikaturis lainnya, Sudarta tidak lupa menyisipkan humor.

"Dia bisa mengkritik melalui gambar tapi lucu, mungkin yang dikritik tak marah. Jadinya kayak-nya mengena tapi tidak menyakiti," ujar seorang ibu, pengunjung pameran GM. Yang lainnya berkomentar,

"Kritiknya lucu, jadi saya senang. Gambarnya juga dikenal, saya tahu ini karya GM, meski nggak ada tandatangannya."

Humor itu nyawa

BAGI lelaki kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini, humor dalam karikatur adalah ibarat nyawa. Menurutnya, dengan gambar lucu serta humor, karikatur dapat memancing orang untuk tertarik, kemudian melihatnya. "Termasuk pejabat yang saya kritik, sehingga ada kemajuan, ada perbaikan," kata peraih peraih Best Cartoon of Nippon tahun 2000 ini. "Jadi tugas karikatur tidak untuk mengubah pendapat, mendobrak atau revolusi."

Karena itulah, GM yang pernah mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta ini, karikatur hanyalah menyampaikan misi perbaikan saja. Masalah apakah itu berhasil atau tidak, "itu bukan tanggungjawab saya," tegasnya seraya menambahkan karikatur juga mengemban tugas sebagai penghibur.

Dan yang lebih penting lagi, menurutnya, karikatur adalah katup pembuka untuk tekanan sosial masyarakat. "Buat masyarakat yang kecewa dengan, keadaan sekarang, seperti keadaan Lapindo, korban tsunami yang kasusnya masih terlunta-lunta, bisa terhibur dengan adanya karikatur," kata GM.

Sudarta memang dikenal sebagai karikaturis yang hati-hati, dan jauh dari sarkastik. Di masa Orde Baru, di mana pers dikontrol sepenuhnya, menurut Sudarta, sikap seperti itu dibutuhkan.

Tapi walaupun situasi politik sekarang jauh lebih bebas dibandingkan masa Orde Baru, karakteristik karya pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini, ternyata tidak banyak berubah. "Kartun pun ada etikanya," tegasnya.

Dia lantas menunjukkan sikap karikaturis sebuah media harian di. "Saya lihat teman-teman di harian Rakyat Merdeka. Kalau orang dikatakan kayak gareng, petruk, badut, Charlie Chaplin, pasti nggak marah. Tapi kalau kamu dikatakan kayak anjing, pasti marah," katanya serius.

GM kemudian memberi contoh karikatur yang lahir saat terjadi sengketa Indonesia dan Australia tentang masalah Papua. "Menlu Downer dibikin kayak anjing bersenggama, tentu itu akan menimbulkan amarah, dan tentu saja itu tidak enak. Dan, masyarakat Australia yang vulgar akhirnya bikin kartun yang sama, SBY menaiki orang Irian yang berekor dan bersenggama. Nah, di sini karikatur itu juga bikin orang marah 'kan," jelas GM. "Karena itulah saya setuju komentar Menlu Downer. Dia mengatakan, 'ah itu selera rendah… Ya, saya juga menganggap itu selera rendah…"

Menurut Yusuf Susilo Hartono, seorang perupa yang mengikuti terus karya-karya GM Sudarta, sikap hati-hati GM tidak terlepas dari gaya kepemimpinan surat kabar Kompas -- yang dianggapnya berpengaruh besar atas Sudarta dan karya-karyanya. "Tapi yang menarik adalah perkembangan karya mas GM, dari awal sampai sekarang, yang menurut saya ada beberapa fase," kata Yusuf Susilo.

Waktu masih mudah, menurutnya, gambar-gambar GM tidak seindah seperti sekarang, tapi lebih peka dan keras dalam menafsirkan keadaan. "Tapi setelah ketemu Pak Jacob Oetama, mas GM tahu harus bagaimana membuat kartun yang gaya jawa sesungguhnya," kata Yusuf Susilo. "Tidak ada pretensi mengubah seseorang, tapi memperbaiki, itu pun kalau bisa."

Karikatur Tepo Seliro

KENDATI dianggap terlalu bersikap hati-hati, tidak berarti karya-karya GM - yang pernah memenangkan penghargaan karikatur di Jepang -- sepenuhnya bebas sensor. "Seperti kartun tentang DOM (daerah operasi militer) Aceh, yang huruf O- nya saya buat seperti tengkorak, itu nggak pernah kita muat, karena Pak Yakob bilang itu terlalu seram..nanti marah. Tapi saya gak apa-apa," papar Sudarta.

Penasaran akan jawabannya, saya lantas bertanya lebih lanjut: "Seingat Pak GM apa alasannya pelarangan itu?"

"Terlalu tajam dan lucunya jadi kurang dalam situasi perang kayak gitu (operasi militer) di Aceh."

"Jadi, gambar tengkorak itu akhirnya tidak pernah dimuat?" saya bertanya lagi.

Dia menjawab seraya tersenyum tipis, "Nggak pernah, tapi akhirnya saya pasang di pameran dan buku."

Kejadian seperti ini sering?

"Oh, banyak, banyak dan saya sadari itu.. Dalam beberapa hal saya emosional, inginnya menyerang. Nah, Pak Yakob ingatkan, bahwa kartunis itu tidak mendobrak, mengubah pendapat. Dia cuma melakukan misi perbaikan, itu saja."

Menyikapi seperti itu, apa yang sebaiknya yang dilakukan seorang karikaturis jika karyanya tak dimuat? Saya bertanya lagi.

"Ya, saya simpan, saya dokumentasikan. Nanti kan bisa dibukukan. Dan ini saya sadari. Di Indonesia itu seperti itu, hati-hati, tepo seliro, begitulah.."

Yusuf Susilo Hartono menganalisa, karya-karya karikatur GM Sudarta pada periode sekarang, memasuki fase kematangan "Perubahan mas GM itu menuju kematangan, baik kematangan pribadi atau Kompas, dalam menyikapi bangsanya," katanya.

Diakuinya, pada situasi yang serba bebas sekarang, para karikaturis menghadapi tantangan yang lebih rumit. "Karena semua orang bisa menyampaikan kritik," tandasnya.

Di mata GM Sudarta, berkarya melalui karikatur tidak harus bermuara kepada perubahan. Menurutnya, karya-karyanya lebih menjadi katup pembuka dari tekanan-tekanan sosial. Dan di dalam memerankan tugas seperti itu, Sudarta mengaku pernah mengalami semacam kelelahan akut. "Saya pernah sakit lebih 3 bulan, nggak tahu kenapa. Saya di RS Carolus pada tahun '85, tapi nggak pernah saya sakit apa, tipus bukan, panas tapi nggak jelas," ungkapnya.

Diagnosa dokter yang merawatnya juga mengatakan, semua hasilnya negatif, sehingga "dokternya sampai bingung," celetuknya. "sehingga saya dikira kena sawan."

Sampai kemudian, ketika para kolega dan teman-temannya menjenguknya, mereka memberikan semacam jalan keluar. "Teman-teman psikolog seperti Sartono Mukadis, dan pelukis Abas Alibasya bilang 'udah melukis saja'. Mereka bilang begitu, karena waktu itu saya terlalu banyak (berhadapan) dengan (situasi) Orde Baru, tapi saya nggak bisa bikin karikaturnya," jelasnya. "Akhirnya saya melukis, dan boom-nya sampai sekarang melukis juga untuk dana di luar GBHN, ha, ha.., "GM terbahak. "Keseimbangan saja kok mas, ternyata itu betul…"

Sebagai karikaturis yang dibesarkan surat kabar berpengaruh, Sudarta mengaku bersyukur. Dia tidak membantah jika profesi karikaturis sekarang masih dipandang rendah di dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Namun Sudarta tidak menyalahkan siapa-siapa. Ini adalah bagian dari masalah yang lebih besar, begitu kata Sudarta dengan mimik serius.

Tapi saat ditanya alasannya kenapa berpakaian serba hitam, ayah dua anak ini kembali membuka senyumnya.

"Yang serius, kotor nggak kelihatan. Baju satu nggak kelihatan. Yang tidak serius, saya lihat masih ada suku-suku bangsa yang suka makai (baju) hitam, karena mereka berpendapat, hitam itu warna gelap, warna yang kita tidak tahu sebelum kita lahir dan sesudah hidup. Dan saya pakai hitam, ya itu lagi yang serius, kalau pakai hitam nggak kelihatan...,"lelaki berambut panjang itu tertawa.

Berapa setelan hitam yang bapak punya? Saya iseng bertanya. "Ha, ha, berapa dik?" GM menoleh kepada dua orang anaknya, yang sejak tadi mendampingi. "Ratusan… banyak sekali," celetuk salah-seorang anaknya. Wawancara akhirnya berakhir, dan GM menutup dengan gaya khasnya: santun seraya tersenyum. ***

 (Disiarkan Radio BBC Siaran Indonesia, oleh Heyder Affan, pada Rubrik Seni dan Budaya, Minggu, 8 Juli 2007)

Aug 15, 2007

Dili, Agustus 2006

”JANGAN coba-coba berani jalan sendiri di kota Dili di atas pukul 5 sore, kalau ingin selamat,”  itu pesan yang saya terima dari seorang sopir taksi, yang kemudian menjadi sahabat, bernama Fransisco Carvalho, atau biasa dipanggil Siko.

Kejadiannya 1 hari setelah saya mendarat di kota Dili, awal Agustus 2006. Awalnya saya tidak percaya. Tapi tidak membutuhkan hitungan hari, malam pertama di kota Dili, akhirnya saya habiskan  di kamar dan ruangan makan Hotel Tourismo, karena di luar begitu sepi, dan memang tidak satu pun terlihat petugas polisi yang bertugas. Padahal, kata Siko, “Kalau situasi normal banyak orang pecaran di depan hotel, tempat abang menginap.”

 

Namun sejujurnya, yang layak takut adalah penduduk asli kota Dili, utamanya warga dari wilayah timur negara itu. Mereka inilah yang banyak menjadi korban kerusuhan 4 bulan sebelumnya. Pelakunya adalah orang-orang dari warga bagian barat, yang jumlahnya lebih banyak berdomisili di kota itu.

 

Siko, sopir taksi itu tadi, pernah begitu khawatir, saat saya minta diantar ke wilayah Komoro, tidak jauh dari Mesjid An-nur, sebuah wilayah yang rawan tawuran. “Saya antar abang, lalu saya segera pulang ya,” begitu dia mewanti-wanti – berulang-ulang.

 

Praktis yang telihat banyak di jalanan, setelah aparat polisi dilarang bertugas, adalah semacam satpam yang diorganisasi sebuah perusahaan keamanan bernama Maubere Security. Mereka biasanya digaji untuk menjaga rumah mewah, kantor –kantor bank, serta supermarket, dan kantor milik pemerintah. Tapi masih kata Siko, “mereka tetap saja lari ketakutan seperti kerusuhan kemarin.” 

Bagaimanapun untuk mengatakan bahwa keamanan di kota Dioli telah berjalan optimal, setelah kedatangan pasukan internasional dari Portugal, Malaysia, Australia dan Selandia Baru,  rasanya tidak sepenuhnya benar.

 

Pada hari keempat, setelah saya tinggal di Dili, misalnya, sebuah asap hitam masih mengepul dari kawasan Komoro, pertanda masih adanya pembakaran terhadap rumah warga timur. Juga masih terlihat aski pelemparan batu di sebuah lokasi pengungsi di kota Dili, persis di depan hotel paling mewah, Hotel Timor.

 

Dan bukan sesuatu yang bisa ditutup-tutupi lagi,  jika di antara pasukan internasional, ada persoalan ego atau persaingan di antara mereka. Seorang warga kota ini, yang enggan disebut namanya, bercerita, gara-gara tidak ada koordinasi diantara pasukan itu, kerusuhan sulit dikontrol.

 

Tapi seperti diceritakan mantan Gubernur Timor Timur di masa Indonesia berkuasa, yang kini menjadi anggota parlemen dari Partai Sosialis Demokrat, Mario Carascalao, warga kota ini tetap membutuhkan tentara asing, walau sebagian masyarakat membencinya.

Apa yang diutarakanya Carascalao itu tadi,  adalah gambaran betapa pemerintah Timor Leste lebih bersikap realistis dan bersandar sepenuhnya kepada bantuan negara-negara tersebut.

 

Tapi, tidak bisa dibantah, ini juga menunjukkan betapa lemahnya peran penegakan keamanan dan hukum pemerintahan Ramos Horta.

 

Kasus terakhir, adalah kaburnya  seorang pimpinan  tentara pemberontak dari penjara pemerintah di wilayah Bekora, yang dikesankan sebagai tidak seriusnya kerja aparat pemerintah. Dan contoh lain yang paling jelas, adalah ketika ancaman Perdana Menteri Ramos Horta untuk memindah paksa pengungsi dari tenda-tenda, gaungnya tidak pernah terdengar.

 

Puluhan ribu pengungsi tetap memilih menetap di tenda-tenda. Karena, menurut salah-seorang diantaranya, Agustinho, “pemerintah tidak bisa menjamin bahwa mereka tidak akan dibunuh warga bagian barat saat pulang ke kampungnya”.

Memang sudah ada upaya rekonsiliasi oleh LSM dan perorangan, tapi Siko, juga pendeta yang juga pimpinan komisi rekonsiliasi, Augustinho da vas Conselos, mengaku pesimis, persoalan itu bisa cepat selesai.

 

“Rasanya proses penyembuhan bakal meminta waktu yang lebih lama, daripada kasus serupa di jaman Indonesia berkuasa, karena konflik terjadi antara masyarakat Timor Leste sendiri.” Ini kata-kata yang diucapkan Augustinho, yang rumah dan perabotnya dikabar dan dijarah gara-gara dia berasal dari Timur, dan kakak lelakinta adalah petinggi tentara negara itu.

 

Dan kalau rekonsiliasi yang dipilih, agaknya sebagian warga kota ini, menyatakan sudah muak dengan kata-kata itu, karena, “kata rekonsiliasi hampir kehilangan makna,” kata  pegiat LSM dari Yayasan Hak, Amadio Hai. Dan biasanya yang dijadikan rujukan adalah proses rekonsiliasi dengan Indonesia yang dianggap mengorbankan orang-orang yang keluarganya dibunuh oleh milisi saat jajak pendapat tahun 1999.

 

Namun ketika saya tanyakan, kalau yang dipilih adalah jalur hukum, apakah perangkat negara Timor Leste sudah siap. Orang-orang yang paham akan seluk-beluk dunia hukum di negara liliput itu, akan mengatakan: proses hukum tidak akan mungkin terjadi, karena menurut Pastur Mastinho da Silva Gusmao dari Diosis Baucau, para elit politik di Timor Leste tidak ada yang bersikap tegas.

 

Itulah sebabnya dengan nada sedikit bergurau, Pastur Mastinho,  mengaku kepada saya, “Saya akan pindah warga negara, kalau aktor intelektual kerusuhan kemarin diseret ke meja hijau.” (Disiarkan Radio BBC Siaran Indonesia, dalam rubrik Kartu Pos, akhir Agustus 2006)

 

Aug 13, 2007

Asap Kemenyan, bunyi “Dreng, dreng”, dan kisah tarian purba

DRENG, dreng…, ting, tang…, buuus…," bunyi genderang dan gending, serta asap kemenyan yang membumbung di salah-satu ruangan Musium Nasional Jakarta pada Kamis malam lalu, mengiringi kehadiran 7 orang penari pria di atas panggung. Mereka mengenakan penutup kepala blangkon, selendang, dengan gerak serba pelan, tetapi tetap terlihat tegap.

Begitulah adegan awal tarian klasik yang berumur lebih 300 tahun ciptaan Raja Mangkunegaran I, Raden Mas Said, berjudul Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto. Dalam Bahasa Indonesia, tarian itu kurang-lebih berarti Tarian Kesatria Mataram yang bak gajah mengamuk…

Ketua pelaksana harian pagelaran ini, Agus Haryo, menjelaskan, tarian ini untuk mengenang 15 orang satria andalan Mangkunegaran dalam pertempuran dengan Pasukan Belanda di sebuah hutan, tidak jauh dari wilayah Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1756. "Pertempurannya berlangsung seru, pasukan Mangkunegaran berjumlah 85 orang, sementara musuhnya mencapai seribu orang," jelas Agus Haryo.

Dikisahkan dalam pertempuran itu, 15 orang prajurit Mangkunegaran tewas. Kejadian ini, tentu saja, membuat sang raja sedih luar biasa. Untuk menghormati kelima-belas prajurit itu, Raden Mas Said kemudian menciptakan tari tersebut. Itulah sebabnya, walaupun tarian itu berlatar peperangan, nada sendu lebih banyak terdengar dalam pagelaran tarian itu. "Memang di bagian tengah, ada nada minir, senduh dan itu sungguh mengharukan," kata Daryono, ahli tari klasik Jawa yang juga penari dari tarian ini.

Dan saat para penari beraksi di atas panggung yang didominasi warna hitam, para pengunjung - sebagian diantaranya adalah warga asing -- tidak ada satu pun yang beranjak dari tempat duduknya, selama lebih dari 1 jam pertunjukan. Mereka tampaknya paham bahwa tarian ini belum pernah digelar di publik dalam jangka waktu seratus tahun lebih. "Kita perkirakan, malah lebih 100 tahun," tandas Agus Haryo.

Agus menjelaskan, tarian itu tidak pernah dipentaskan lagi karena dilatari persoalan politik. Kesimpulan ini didapatkannya berdasarkan hasil diskusi dengan para peniliti dan ahli tari Institut Seni Indonesia Surakarta, serta data dari buku tentang restrukturisasi budaya Jawa. "Kenapa tidak pernah dipentaskan, karena akan menyinggung pemerintah Hindia Belanda dan keraton lainnya, sehingga diputuskan oleh keturunan Mangkunegaran 6 dan 7, agar tidak dipentaskan lagi," jelasnya.

Walaupun musuh utamanya adalah Belanda, tetapi sejarah juga mencatat, saat itu perpecahan tengah melanda anak-cucu pendiri Kerajaan Mataram. Perpecahan itu, seperti diketahui, menyebabkan berdirinya berbagai dinasti keluarga kerajaan di Yogyakarta dan Surakarta. Perpecahan itu, menurut Agus, kemudian dimanfaatkan pemerintahan Kolonial Belanda, dengan memecah-belanya. "Nah, makna tarian itu menjadi masalah yang sensitif, karena ditakutkan menyinggung keraton lainnya," jelas Agus Haryo.

Semenjak itulah, tari Bedhoyo Mataram Senopaten ini nyaris terlupakan, hampir hilang, sekian ratus tahun. Menurut Agus, setelah Mangkunegaran 1 diganti cucunya yaitu Mangkunegaran 2, mulai saat itulah tarian ini hilang dari catatan sejarah, sehingga tidak terdeteksi lagi. "Pernah ditarikan lagi saat pejabatnya adalah mangkunegaran 4, tapi setelah itu tidak pernah lagi, " jelasnya. Akibatnya kemudian, tarian itu tidak dikenal lagi, dan yang tersisa adalah gerak dasar dan gending yang masih dikenali.

Dan lebih dari seratus tahun kemudian, semangat untuk merekonstruksi kembali, itu muncul kembali. Para keluarga besar, kerabat serta dan orang-orang yang peduli terhadap keberadaan tari sakral tersebut berupaya menghidupkan kembali, bertepatan 250 tahun Puro Mangkunegaran di Kota Surakarta. Berbagai upaya disiapkan dan dilakukan untuk menghidupkan kembali tarian yang nyaris punah itu.

Rekonstruksi Ulang

MELIBATKAN ahli tari, dokumentasi sejarah, serta catatan pribadi sang raja, maka proyek rekonstruksi atas tari Bedhoyo Mataram Senopaten itu pun digelar. Pertanyaannya kemudian, seperti apa dan bagaimana mereka melakukan proyek rekonstruksi itu?

Daryono, ketua tim peneliti dalam proyek rekonstruksi tari itu, mengatakan, upaya ini relatif sulit dilakukan. Dia memberi contoh, setelah beberapa bulan 'mengembara', pihaknya hanya menemukan syair (cakepan tembang). Tapi mereka tidak putus asa, karena, "Berdasarkan riset fakta sejarah yang ada, kami akhirnya menafsirkan kembali fakta itu dalam bentuk abstraksi yang kami hayati, dan kami tuangkan dalam bentuk komposisi," terang Daryono, yang juga dikenal sebagai staf pengajar program pasca sarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Surakarta.

Dan, setelah memakan waktu berbulan-bulan, akhirnya rekonstruksi tari tersebut selesai sudah. Sebelum pertunjukan itu digelar pada Kamis malam lalu, saya sempat menyaksikan latihan terakhir mereka. Daryono, yang disebut koordinator dalam tarian itu, terlihat serius memimpin latihan itu.

Menurutnya, sebagai orang yang dipercaya sebagai penari Bedhoyo Mataram Senopaten, itu adalah tugas yang tidak main-main. "Seperti lain sekali, ketika akan menarikan Bedhoyo Mataram, karena ini khusus dan baru sekali teman-teman melihat bentuk bedhoyo ini ditarikan pria, karena selama ini penarinya putri, katanya."

Kejadian Aneh

LATAR belakang tarian yang sedemikian rupa, lanjutnya, juga membuatnya perlu berhati-hati. "Perasaan kami juga bangga, tetapi perlu juga kehatian-hatian, kepasrahan, 'kemenepan', yang kita bangun sejak lama, supaya dapat menghayati, agar nanti bisa memberi aura tarian itu sendiri yang imbasnya kepada para penghayat atau penonton," jelas Daryono.

Kesan sakral dari tarian itu, memang terlihat sebelum pagelaran itu Diwarnai asap dupa yang keluar dari tembikar yang dibawa seorang lelaki tua, Ketua panitia, Agus Haryo dihadapan pengunjung, membaca salah-satu surat dalam alquran. "Kenapa sakral, karena tarian ini menjadi monumen perjuangan. Ini luar biasa, karena tidak dimiliki Bedhoyo lainnya," ujar Agus Haryo.

Itulah sebabnya, masih menurut Agus, pihaknya melakukan berbagai persiapan yang, "tidak main-main, seperti melakukan selamatan, berdoa...," ujarnya.

Meskipun sulit dipercaya, Agus memberi contoh kejadian aneh sebelum pagelaran tari ini di Puro Mangkunegaran, pada bulan Maret lalu. Saat itu, katanya, tiba-tiba ada gempa. "Nah sekarang, Rabu kemarin, tiba-tiba ada gempa mengguncang Jakarta. Memang ini kesannya mistik, tapi, ya Allah.., ya mau dibilang nggak-sakral, tapi nyatanya sakral," kata Agus.

Upaya persiapan seperti itu, ternyata, tidak hanya dilakukan Agus dan panitia lainnya, namun juga kalangan penari. Daryono mengatakan, para penari bahkan mendatangi makam Mangkunegaran satu, untuk meminta semacam safa'at. "Kami juga melakukan pendekatan seperti dilakukan master-master tari terdahulu, yaitu mendoakan beliau, dan safa'atnya bisa direfleksikan kepada kami, yang punya niat baik untuk merevitalisasi karyanya," demikian penjelasan Daryono.

Dan seperti diharapkan Daryono, para penonton tampaknya menghayati tarian itu. Tepuk tangan berulang-ulang ditunjukkan para pengunjung, setelah gending terakhir dan penari menuruni panggung. Seorang penonton pria mengatakan "sangat indah", sementara penonton lainnya berkomentar "ini tari klasik yang punya nilai tinggi" dan lainnya berujar "pementasan ini istimewa sekali karena jarang digelar…"

(Laporan ini disiarkan dalam rubrik Seni dan Budaya, Radio BBC Siaran Indonesia, Hari Minggu 12 Agustus 2007, pukul 18 lebih 15 menit, oleh Heyder Affan)