Showing posts with label nonton. Show all posts
Showing posts with label nonton. Show all posts

May 21, 2008

May, filem berlatar kerusuhan '98...

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
SEPULUH tahun setelah kerusuhan itu, yang menyisakan kehilangan, nestapa, dan luka, keluarga itu digambarkan bertemu kembali. Suasana gembira dihadirkan melalui senyum empat orang di dalam ruangan itu: May (diperankan pendatang baru Jenny Chang) dan anaknya, ibunya alias Cik Bing (Tuti Kirana), serta Antares (Yama Carlos), kekasih May.

Kamera yang semula menyorot dari jarak dekat, kemudian pelan-pelan bergerak pelan menjauh, dan sebagian penonton barangkali bernafas lega: akhirnya filem ini berakhir "bahagia"...

Tapi tunggu dulu. Ada beberapa "tanda", yang disusupkan sang sutradara (Viva Westi) dalam adegan tersebut, yang bisa berarti meruntuhkan anggapan penonton itu. Pertama, sang ibu tetap mengenakan gaun merah, persis seperti yang dia kenakan sepuluh tahun silam -- saat dia terakhir bertemu anaknya, May, sebelum kerusuhan terjadi, yang akhirnya memisahkan mereka.

Kedua, adegan akhir itu hanya berupa gambar, tanpa dialog, tetapi dilatari musik yang sungguh menyayat: sebuah bahasa gambar yang indah, tapi sendu, sekaligus menyentuh. Sutradara filem ini, Viva Westi mengaku, adegan reuni itu adalah mimpi keluarga tersebut. "Mimpi orang-orang yang ingin seandainya kejadian (kerusuhan) itu tak terjadi, maka kejadian akhir yang menyenangkan itu akan mereka alami."

***
JUDUL filem ini adalah May, yang diharapkan sebagai filem drama (percintaan) dengan latar kerusuhan Mei tahun 1998. May, yang dipakai sebagai judul filem, adalah nama seorang perempuan keturunan Tionghoa, tokoh utama dalam filem ini.

May awalnya diceritakan menjalin kasih dengan seorang lelaki bernama Antares namun hubungan ini menjadi hancur-lebur karena kerusuhan tersebut. Sang kekasih, saat kerusuhan 13 Mei 1998, digambarkan sibuk dengan perannya sebagai pembuat filem dokumenter -- dia tidak berada di sisi May, yang hari itu terjebak pada situasi rusuh, dan menjadi korban perkosaan. (May juga terpisah dari ibunya Cik Bing, yang harus mengungsi ke Malaysia).

Filem ini memang berdasarkan kejadian kekerasan sepuluh tahun itu, tetapi kejadian itu sendiri hanyalah latarnya. Ini adalah filem bagaimana manusia yang berada dalam pusaran kerusuhan, utamanya para korban, menghadapi hidup. Juga bagaimana orang-orang yang memanfaatkan kejadian itu, dan akhirnya gelisah.

Ibu yang terpisah dari anak, dan dua orang lelaki yang pernah yang melakukan kesalahan, dan berusaha keras untuk menebusnya.

Itulah sebabnya, sang sutradara kemudian memasukkan tokoh lain bernama Gandang (diperankan Lukman Sardi), yang kehadirannya ikut berperan atas nasib May dan ibunya. Saat kerusuhan meledak, ibu May dan warga keturunan lainnya panik dan menjual apapun agar dapat kabur ke luar negeri.

Gandang, yang bekerja sebagai tukang cuci sebuah hotel di Jakarta, dapat keuntungan, setelah Ibu May menjual sertifikat rumah demi mendapatkan tiket ke luar negeri, untuk menghindari kerusuhan. (Dalam filem digambarkan, suasana sebuah hotel di Jakarta, di mana terlihat warga keturunan yang panik. Di sini dimunculkan seorang pimpinan menengah hotel itu, yang 'mengambil' kesempatan, dengan menawarkan tiket ke luar negeri dengan harga selangit. Dan Gandang berada dalam pusaran itu...).

Gandang adalah orang yang akhirnya mendapatkan sertifikat itu. Selembar tiket yang kemudian mengubah hidupnya -- dari seorang pekerja rendahan di laundry hotel, menjadi seorang pengusaha laundry yang sukses.

***
SEPULUH tahun kemudian, Gandang dan Antares yang gelisah, menemukan kembali gambaran masa lalunya itu. Di sebuah kota di Malaysia, mereka secara terpisah bertemu kembali dengan orang-orang yang selama ini membuat keduanya merasa berdosa. Antares bertemu bekas kekasihnya, May, sementara Gandang menjumpai ibu May yang setengah linglung.

Filem yang menggunakan metode berlombat-lompat ini, dari masa kini ke masa lalu, dan sebaliknya, kemudian menyorot bagaimana dua orang itu membayar apa yang disebut sebagai kekeliruan masa lalunya. Dan ini tidaklah gampang...

Seperti dikatakan sutradara filem ini, Viva Westi, filem ini tidak merekonstruksi kerusuhan Mei '98, namun peristiwa itu lebih dimunculkan sebagai latar belakangnya. Sebagian penonton tentu penasaran bagaimana filem ini menggambarkan kerusuhan yang merenggut korban ribuan itu. "Kalau kejadian rusuh itu direkonstruksi ulang secara gamblang, maka bagi saya itu menyakitkan. Maka saya pakai media TV, yang saya refleksikan melalui kaca," kata Viva Westi. (Dalam filem kejadian rusuh itu ditampikan sekelumit, selain melalui TV, juga berupa gambar dengan jarak dekat dengan bunyi kaca pecah dan terikana orang-orang).

Kejadian perkosaan terhadap May, juga digambarkan secara simbolis. Dia digambarkan setengah terduduk, menangis, sebelum ditemukan penolongnya.

Dalam cerita filem ini, May semula menolak bayi dari rahimnya. Di sinilah tokoh lain dimasukkan, seorang jurnalis asing yang menyelamatkan May pada hari naas itu. Raymond, lelaki itu, kemudian yang membesarkan bayi itu hingga menjadi bocah berumur sembilan tahun.

Namun sebetulnya, ada satu tokoh lagi yang kurang ditonjolkan, yaitu Harriandja, yang diperankan aktor Tio Pakusadewo. Orang inilah di saat kerusuhan terjadi, menjadi tokoh yang diwawancarai Antares untuk proyek filem dokumenternya -- sepertinya dia seorang politisi yang saat itu menganjurkan reformasi. Dan sepuluh tahun kemudian, tokoh itu menjadi bos Antares.

"Saya sengaja menampilkan tokoh seperti dia, karena orang seperti itu gampang dijumpai. Dulu, mungkin dia sosialis, tapi sekarang dia adalah kapitalis," jelas Viva.

Menjelang akhir cerita, tokoh Gandang akhirnya menjual perusahaan miliknya, untuk apa yang disebut sutradara, sebagai upaya penyembuhan kesalahan masa lalunya. Uang hasil penjualan itu digunakannya untuk membeli kembali rumah milik Ibu May, sekalian membawanya pulang ke Jakarta. May juga berdamai dengan Antares, dan bertemu anaknya, namun ini bukanlah sebuah adegan akhir...

***
FILEM yang pengambilan gambarnya dilakukan di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Malaysia ini, akan diputar secara serentak pada 5 Juni 2008. Pada 14 Mei lalu, para wartawan diundang dalam jumpa pers (dihadiri sutradara, produser serta para pemerannya), sekaligus menyaksikan langsung pemutaran filem berdurasi 105 menit ini. ***

Feb 5, 2008

Not One Less, kegigihan seorang guru...

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
“NOT one less” adalah sebuah judul filem, tentang kisah seorang guru pengganti di sebuah sekolah, di wilayah terpencil di negeri China. Ini bukanlah filem baru – diputar pertama kali tahun antara 1998-1999 (kami punya filem itu dalam bentuk VCD).

Setelah lama kusimpan, Minggu malam kemarin anakku meminta agar diputarkan filem itu -- disutradarai Zhang Yimou, yang dikenal melalui filemnya Raise the Red Lantern (1990)..

Saya dan istri, tentu senang, dan bersemangat menanggapi permintaan anakku. . Alasannya jelas; filem ini bertutur tentang sebuah kerja keras, tanggungjawab (dalam bentuk paling sederhana), serta bagaimana menghadapi hidup – dengan cara paling polos. “Aida nanti bisa lihat, bagaimana anak-anak itu harus hemat kapur tulis, karena mereka nggak punya duit..,” begitu kalimat pembukaku, sebelum filem itu diputar.

Seraya memeluk guling, dan terkadang berdiri, anakku lantas mencoba menyerap gambar-gambar bergerak itu –seraya bertanya tentang jalan ceritanya..

***

FILEM berdurasi 106 menit ini, dan pernah memperoleh penghargaan untuk gambar terbaik oleh Festival Filem Venice tahun 1999, dibuka dengan sebuah panorama pedesaan, di sebuah wilayah di negeri China. Kamera lebar menyorot alam yang berbukit-bukit, begitu luas, dan tiba-tiba muncul dua orang yang berjalan – satu lelaki tua dengan topi ala Mao, dan seorang perempuan belia dengan rambut dikuncir ke belakang. Mereka berjalan bergegas menuju sebuah bangunan tak terurus, sebuah sekolah dasar…

Guru Gao, lelaki tua itu tadi, adalah guru sekolah dasar tersebut. Karena sesuatu hal (seingatku karena orang tuanya sakit parah), dia harus meninggalkan murid-muridnya. Di sinilah cerita mulai dijalin, ketika seorang guru pengganti, Wei Minzhi, digambarkan berusia 13 tahun, menggantikannya -- sementara waktu.

Guru Gao sempat memprotes pejabat pemerintah yang menunjuk guru belia dan belum berpengalaman. Dalam sebuah percakapan, pejabat setempat menjawab, “sulit mencari guru sepadan di wilayah ini, untuk menggantikan posisi Anda.”

Kelas yang diasuh Guru Gao awalnya berjumlah 40 orang, namun belakangan berkurang menjadi 28 orang. Dilatari gambar sekolah yang bangunannya buruk itu, Gao meminta Wei (diperankan bukan oleh pemain professional, yang juga bernama Wei Minzhi) agar “selama saya pergi, jumlah muridnya jangan berkurang satu pun…”

Guru itu juga meminta agar Wei menghemat kapur tulis – yang harganya tidak terjangkau di wilayah itu (dalam filem ini, sempat digambarkan sebuah pemandangan yang indah, sekaligus miris, saat seorang murid begitu sedih melihat kapur tulis hancur-berantakan terinjak, sementara Guru Wei semula terkesan tidak-mau-tahu).

Sepeninggal guru Gao, kisah antara seorang guru baru dan murid-muridnya pun dijalin. Kamera kemudian menyorot ‘keramaian’ di dalam ruangan sekolah dan tingkah puluhan anak-anak berpipi merah dan berbaju lusuh -- mereka tidak berseragam seperti di sekolah normal pada umumnya. Dari jarak dekat, kamera juga menyorot wajah guru Wei, yang jarang tersenyum.

***

PADA awalnya, Wei terlihat enggan menjalin kedekatan dengan murid-muridnya. Dia lebih memilih berdiam di luar kelas, mengoborol dengan dirinya sendiri, sementara murid-muridnya dibiarkan beraktivitas – menyalin tulisan di papan tulis. Tapi sikapnya ini berubah, setelah salah-seorang murid lelakinya yang bandel, Zhang Huike (juga tidak diperankan oleh bintang professional, yang bernama Zhang Huike) membuat tingkah, yang memaksanya bertindak – sebuah awal yang membuatnya tersadar akan tanggungjawab yang diberikan Guru Gao itu tadi.

Rupanya amanat guru itu membekas pada dirinya. Dan, barangkali karena kepolosannya, Guru Wei kemudian menerjemahkannya secara “hitam-putih” – menyerupai sikap keras kepala, bahkan.

Sikap ini dia tunjukkan saat sekolahnya kedatangan tamu, pada sebuah siang. Ditemani seorang pejabat setempat yang bertopi ala Mao, tamu itu adalah pemantau anak berbakat di bidang olahraga. Seorang murid Wei diharuskan ikut ke kota untuk diasah bakatnya. Tentu saja Wei menolaknya. “Guru Gao minta saya melindungi semua murid di sini. Tidak boleh ada hilang dari sini,” kata Wei dengan muka bersungut. Dia bahkan lari pontang-panting mengejar mobil yang akhirnya membawa salah-seorang muridnya.

***

KESETIANNYA kepada amanat guru Gao, memang, akhirnya menjadi nyawa filem ini. Dibenturkan dengan kenyataan kondisi ekonomi yang menyedihkan di wilayah itu, Wei kembali dikejutkan saat Zhang, murid paling bandel di kelas, tidak muncul di kelas, pada sebuah pagi. Walaupun Guru Wei semula kesal dengan tabiat Zhang, hatinya pedih melihat bangku milik Zhang kosong.

Dengan bersemangat, Guru Wei, dibantu murid-murid lainnya, akhirnya ‘berjuang’ sedemikian rupa agar bisa menjemput Zhang di kota – dikisahkan anak lelaki itu mencari kerja ke kota, untuk mengurangi beban orang tuanya yang dililit utang. Di sinilah Wei, masih disokong murid-muridnya, berusaha sekuat tenaga untuk membawanya pulang.

Tapi persoalannya tidak mudah. Wei tidak punya uang untuk pergi ke kota. Berbagai cara pun dilakukan Wei dan murid-muridnya – mulai membantu mengangkut batu bata milik sebuah pabrik di desa itu (kamera dengan indahnya menyorot, diiringi sebuah musik yang murung, sehingga adegan gotong-royong menggotong batu-bata itu menjadi hidup).

Kisah kemudian berlanjut saat Wei dihadapkan kompleksitas dalam pencarian itu -- kamera secara kontras menyorot sudut-sudut kota, yang hiruk-pikuk, sementara Wei berjalan sendiri. Kamera juga menyorot Zhang, yang wajahnya tetap polos, tapi sikap bengalnya tidak lagi terlihat.

Dengan hanya bermodalkan nama dan alamat tempat kerja Zhang, Wei mengalami kesulitan demi kesulitan. Namun sikap keras kepalanya, dan pendiriannya yang keras, Wei akhirnya bertemu Zhang – dan membawanya kembali, walau dia mesti menunggu berjam-jam didepan sebuah halaman stasiun televisi swasta, tidur di emperan stasiun kereta, berdebat melelahkan dengan orang-orang..

Dec 10, 2007

The Conductors, sebuah filem tentang dirigen suporter sepakbola..

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Documentary
"KALAU elo nggak nonton filem gue, layak dipertanyakan semangat Aremania elo..." Begitu kira-kira pesan bernada seloroh yang masuk ke telepon selulerku, pekan lalu. Pengirimnya adalah Andi Yusuf Bachtiar, alias Ucup, pembuat filem dokumenter...

Rupanya, Ucup tengah mempromosikan filem dokumenter barunya, The Conductors, yang terpilih untuk diputar dalam Jakarta International Film Festival (Jiffest 2007). Dia mengundang saya untuk menyaksikan pemutaran filemnya yang berkisah tentang dirigen atau konduktor suporter sepakbola klub sepakbola..

Dan Minggu sore kemarin (9 Desember), saya pun memenuhi undangannya. Filemnya diputar di bioskop Blitz 7, di komplek pertokoan Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Ucup, didampingi istri dan anaknya (yang masih bayi), terlihat bersemangat saat memberikan kata sambutan sebelum filemnya diputar.

Seperti filem dokumenter pertamanya, The Jak (versi pendeknya memenangkan sebuah festival filem dokumenter di Berlin, Jerman, tahun 2005), yang memotret fanatisme suporter Persija Jakarta, filem ini juga berlatar pendukung klub sepakbola. Bedanya, filem ini lebih menampilkan sosok dirigen yang memimpin para suporter bernyanyi selama pertandingan. "Itu kan gila, bagaimana penjelasannya, seseorang bisa memimpin sekitar 50 ribu-an, untuk bernyanyi selama pertandingan berlangsung," jelas Yusuf, dalam sesi tanya-jawab, saat ditanya kenapa memilih tema tersebut.

Dan saat filem diputar, penonton langsung dihipnotis gambar ribuan suporter Arema Malang tengah bernyanyi di sebuah stadion, serta seorang lelaki kurus yang bertindak sebagai dirigen. Lelaki itu, Yuli ‘Soemphil’ Sugianto, berdiri di atas pagar besi, memainkan dua tangannya, memimpin para suporter itu untuk bernyanyi. Kamera bergantian menyorot Yuli dan terkadang para penonton itu..

Tapi, tentu saja, kamera tidak berhenti sekedar menyorot peristiwa di stadion. Sebagai filem dokumenter, Yusuf mengajak penonton untuk menyelami sisi keseharian Yuli, si konduktor itu tadi. Selain mewawancarainya, filem itu juga menyelusuri bagaimana kehidupan ekonomi Yuli -- dia ternyata agen penjual minuman mineral (ada pemandangan syahdu, saat Ucup berhasil merekam Yuli mendorong galon air mineral ke pelanggannya..)

Namun apakah kemudian filem berdurasi 85 menit itu hanya berputar pada konduktor sepakbola? Di sinilah kecerdikan Yusuf. Mungkin dilatari motivasi agar penonton lebih menyelami peran konduktor alami ala Yuli itu tadi, Yusuf memasukkan dua tokoh lainnya dalam filemnya. Dua orang itu berprofesi sebagai konduktor dalam arti sesungguhnya, yaitu Addie MS, pemimpin orkestra terkemuka Twilite Orchestra, dan satu lagi seorang pria pemimpin paduan suara Universitas Indonesia, AG Sudibyo. Mirip si Yuli, Yusuf merekam pula keseharian dan mewawancarai dua orang itu.

Sepanjang filem, kamera Yusuf berpindah-pindah dari tiga sosok itu -- mulai aktivitasnya, kesehariannya, hingga obsesi mereka atas profesinya. Terlihat sekali, pembuat filem ingin membandingkan bagaimana mereka 'menghipnotis' orang-orang untuk menyanyi, atau memainkan alat musiknya secara rancak, dengan caranya masing-masing.

Dan dari gambar-gambar yang ditampilkan, tanpa harus berkhotbah, Yusuf terlihat berhasil menampilkan perbedaan itu. Misalnya saja, bagaimana Addie MS menyusun persiapan konsernya, yang terkesan tidak gampang, serius, dengan bantuan komputer segala. Dengan sedikit perbedaan, konduktor Sudibyo dideskripsikan pula bagaimana pandangannya tentang profesinya. Sementara, sebaliknya, Yuli digambarkan lebih mengandalkan improvisasi di lapangan. "Saya tak butuh persiapan apa-apa.." tandas Yuli, seraya tertawa.

Usai pemutaran filem, Yusuf mengatakan, filem ini dibuat karena rasa cintanya terhadap dunia sepakbola, berikut persoalan sosial yang ada di sekelilingnya. Dia menolak anggapan bila filemnya membawa pesan seolah-olah sepakbola Indonesia melulu berisi tawuran antar suporter. "Terserah penilaian orang, tetapi faktanya seperti inilah sepakbola Indonesia.. dan kayaknya, ya, di mana-mana seperti itulah fanatisme sepakbola.." kata Yusuf Bachtiar seraya menambahkan, ke depan dia masih ingin membuat dokumenter tentang sepakbola...

Sebagai pegila sepakbola, tentu kutunggu filem-filemmu berikutnya, Cup..


Dec 3, 2007

Persepolis, filem Perancis berlatar Revolusi Iran.. (Jiffest 2007)

Start:     Dec 9, '07 09:30a
End:     Dec 13, '07 07:00a
Location:     Jakarta
AKHIR pekan lalu, saya membaca buklet acara Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2007, di kantorku. Ini adalah pagelaran ke-9 semenjak festival ini dilaksanakan sekian tahun lalu -- acaranya mulai digelar tanggal 7 Desember (Jumat) dan berakhir 16 Desember Minggu).

Sekilas melihat isi buklet itu, yang berisikan jadwal pemutaran filem berikut bioskopnya, saya menemukan satu filem pembuka berjudul Persepolis. Khusus untuk undangan, filem ini diputar tanggal 7 Desember, sementara untuk umum tanggal 9 Desember di Djakarta Theatre 1 (21.30 WIB) dan tanggal 13 Desember di bioskop Blitz, pukul 19.00 WIB.

Dari buklet itu, filem ini disebutkan bercerita tentang seorang perempuan Iran yang hidup di Teheran, tahun 1978. Saat itu dia menikmati kehidupannya dengan bermimpi menjadi pemimpin masa depan, dan mendengarkan musik punk atau lagu-lagu ABBA.

Tapi, kehidupan Marjane berubah saat revolusi Islam mulai digencarkan di negara itu, dan memaksa orang tua Marjane memindahkannya ke Austria saat dia berusia 14 tahun. Sempat merasakan kebahagiaan di tempat baru, walaupun akhirnya merasa kesepian, Marjane memutukan untuk kembali ke Iran selesai sekolah, dan mengenakan jilbab.

Namun, waktu terus berjalan dan saat Marjane sudah menginjak dewasa. Marjane sadar bahwa dia tidak bisa tinggal di Iran. Marjane akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah airnya dan pindah ke Perancis dengan semangat untuk membuat masa depannya lebih baik.

Tentu saja, ada filem-filem lainnya yang diputar serempak selama sepekan, sebagai rangkaian dari Jakarta International Filem Festival 2007 itu sendiri. Selamat menikmati...

Oct 5, 2007

The Miracle Match

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Drama
APAKAH betul kemenangan tim sepakbola Amerika Serikat (AS) atas Inggris di Piala Dunia 1950, hanya karena faktor seorang keturunan Haiti yang bernama Joe Gaetjens? Dan apa warna kostim Inggris dan AS saat itu? Serta, mengapa pemain sayap legendaris Stanley Matthews tak dipasang dalam pertandingan yang selalu dikenal tersebut? Serta, seperti apa persisnya gol satu-satunya?

Deretan pertanyaan inilah yang menggodaku untuk menonton filem The Miracle Match -- sebuah filem drama yang berlatar sejarah pertandingan sepakbola yang melegenda itu.

Di luar semua itu, filem berdurasi sekitar 100 menit yang didasarkan buku The Game of Their Lives karangan Geoffrey Douglas ini, boleh kusebut biasa-biasa saja -- tak ada yang istimewa. Filem produksi tahun 2005 ini lebih menyoroti kisah sebagian para pemain tim Amerika Serikat, utamanya yang berasal dari daerah St Louis dan New York. Bangunan cerita dimulai dua pekan sebelum pertandingan hingga kemenangan itu diraih.

Dan dibumbui sedikit konflik, cerita filem ini diawali seorang wartawan muda yang mewawancarai saksi mata pertandingan yang terjadi 57 tahun lalu ini -- yang ternyata juga seorang jurnalis (Dalam kisah nyatanya, pertandingan ini diliput satu-satunya wartawan AS yaitu Dent McSkimming dari surat kabar St. Louis Post-Dispatch). Wawancara ini berlangsung di sebuah stadion, saat bertanding dua klub anggota Liga AS. Gambar perlahan-lahan pindah ke sebuah lapangan bola di tahun 1950...

Untungnya sebelum menonton filem yang dibintangi Gerard Butler, Zachery Ty Bryan, dan Wes Bentley ini, aku sudah membaca sejumlah artikel di seputar peristiwa pertandingan tersebut. Sehingga pemahaman itu bisa membantu saya mengenal para pemain -- bayangkan betapa tidak menariknya menonton filem ini jika sebelumnya mereka tidak mengetahui sejarah pertandingan itu.

Para pemain AS yang melegenda itu adalah sang kiper Frank Borghi (keturunan Italia, dan dia begitu ditonjolkan dalam filem ini), Frank Wallace (dia dipanggil 'Pee Wee'), serta Charlie Colombo yang main begitu kasar sehingga pemain Inggris Stanley Mortensen pun menjadi korban.

Para pemain lainnya adalah Walter Bahr, Gino Pariani (dalam filem ini dia menikah sebelum ke Brazil), Joe Maca (setelah piala dunia berakhir dia merumput di belgia) hingga John Souza (yang terpilih dalam tim all star pada piala dunia 1950), serta tentu saja Joe Gaetjens -- yang disebut terakhir ini adalah pemain asal Haiti, yang di dalam filem ini digambarkan sebagai tukang masak sebuah restoran. Sebagian besar pemain AS adalah para imigran -- bahkan sebagian diantaranya adalah berpaspor asing (fakta ini kemudian dibesar-besarkan sebagai faktor kenapa Inggris kalah dalam pertandingan itu..)

Puncak filem ini adalah pertandingan itu sendiri yang digelar di Stadion IndependĂȘncia, kota Belo Horizonte, 29 Juni 1950. Warna kostim AS putih (dengan garis merah melintang di dada seperti kostim Peru), celana biru tua, dan kaos biru tua. Sedangkan kostum tim Inggris: biru tua, celana putih dan kaos kaki biru tua.

Pada filem ini juga diperlihatkan bagaimana terjadinya gol satu-satunya. Diawali serangan balik (Inggris dilaporkan menguasai pertandingan), melalui sayap kanan, Walter Bahr mengumpan bola lambung ke arah gawan Inggris. Bola setinggi pinggang itu kemudian disambar Gaetjens pada menit ke-37 babak pertama .. dan gol! (kamera filem kemudian mengarah ke seorang wartawan BBC yang melaporkan pertandingan itu).

Filem ini juga merekonstruksi kejadian pelanggaran pemain belakang AS Charlie Colombo yang melanggar Stanley Mortensen -- yang dikenang sampai sekarang. Wasit Datillo dari Italia ternyata tak menghadiahkan pinalti, walau disebut-sebut pelanggaran itu di dalam kotak finalti.

Saya juga menjadi lebih tahu kenapa pemain sayap kesohor Stanley Matthews tidak dipasang dalam pertandingan itu. Seorang pemain AS mengutip keterangan pers, mengatakan, "Stanley Matthews tak akan dipasang nanti, karena dia istirahat untuk pertandingan berikutnya."

Frank Borghi, kiper AS, dalam filem itu digambarkan berulang kali menyelamatkan gawang dari serangan Inggris yang dimotori Tom Finney, Mortensen, hingga Mannion (ada beberapa catatan sejarah yang menyebut kemenangan itu juga karena kemampuan Borghi berulang kali menyelamatkan gawang AS). Dalam tim Inggris ikut serta Alf Ramsey, di posisi bek, yang nantinya menjadi manajer negara itu saat menggondol juara dunia di tahun 1966.

Di akhir filem, pemain AS merayakan kemenangan itu. Kamera kemudian mendekati kerumunan para pemain negara itu. Juga, adegan para penonton menggotong Gaetjens, yang diabadikan koran-koran, direkonstruksi ulang. Secara perlahan, kamera kemudian pindah ke masa kini, saat sebagian pemain yang masih hidup disorot kembali -- disaksikan para pemain liga AS pada masa sekarang...